Nasional . 18/06/2026, 16:31 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) memberikan edukasi kepada para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfizh Darul Quran, Tangerang, Banten, mengenai bahaya tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan tindak pidana penyelundupan manusia (TPPM). Edukasi ini merupakan bagian dari Program Desa Binaan Imigrasi yang dijalankan oleh Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Tangerang.
Kepala Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Non TPI Tangerang, Hasanin mengatakan, program tersebut menyasar kalangan usia produktif yang rentan menjadi korban TPPO dan TPPM. Selain pondok pesantren, kata dia, sosialisasi juga dilakukan di sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi.
"Kami melihat Pondok Pesantren Darul Quran ini juga ada potensi, anak-anak muda tidak hanya sekolah SMA, perguruan tinggi juga. Fungsinya hanya untuk mengedukasi masyarakat yang sudah usia produktif yang rentan dengan kegiatan yang berpotensi menjadi korban TPPO," kata Hasanin di Ponpes Tahfizh Darul Quran, Cipondoh, Tangerang, Banten, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurutnya, Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran yang dipimpin Ustaz Yusuf Mansur menjadi pesantren kedua yang mendapat edukasi dari target tujuh pesantren di wilayah Tangerang yang akan disambangi dalam program tersebut.
Hasanin menjelaskan, Desa Binaan Imigrasi merupakan salah satu dari 15 program strategis yang dicanangkan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. Sejak 2025, sekitar 50 desa binaan telah dibentuk di Kota Tangerang, termasuk di kawasan Dongkal Raya, Ketapang, lokasi berdirinya Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran.
Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya TPPO dan TPPM, Kantor Imigrasi juga membuka layanan paspor simpatik bagi para santri, staf pondok pesantren, dan orang tua murid.
Hasanin menilai, para santri Darul Quran memiliki potensi besar karena setiap tahun terdapat santri yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Oleh sebab itu, edukasi mengenai prosedur keberangkatan yang aman dinilai penting.
"Karena itulah kami hadir di sini, melihat santri dari pimpinan pesantren Pak Kiai Yusuf Mansur, banyak yang mengirim santri-santri untuk sekolah di luar negeri. Jadi kami juga harus hadir di sini untuk memberikan edukasi ke masyarakat," kata Hasanin.
Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Ustaz Yusuf Mansur atau UYM menyambut baik kegiatan ini. Ia mengaku mendapat banyak pengetahuan baru mengenai risiko yang dapat dialami korban perdagangan orang maupun penyelundupan manusia.
"Kami berterima kasih kepada Imigrasi, penting banget anak-anak kami dan keluarga besar kami, khususnya di Darul Qur'an menerima sosialisasi tentang bahayanya TPPO dan TPPM," kata UYM.
Melalui kegiatan ini, UYM juga memahami pentingnya keterbukaan saat mengajukan paspor. Menurutnya, kejujuran pemohon menjadi salah satu cara agar terhindar dari potensi kejahatan lintas negara.
"Saya juga baru dikasih tahu, terutama tadi teman-teman menjelaskan pada saat bikin paspor harus jujur. Padahal memang suka nutup-nutupin ternyata sampai sana dia bahaya dan teman-teman Imigrasi pasti lebih punya sense, lebih punya ilmu, pengalaman, pemahaman sehingga kalau santri-santri bisa jujur mereka selamat," terang UYM.
Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti lebih dari 20 santri. Sementara layanan paspor simpatik yang digelar bersamaan telah menerima 25 pendaftar.
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Tangerang berkomitmen untuk terus melaksanakan sosialisasi Desa Binaan Imigrasi setiap bulan guna meningkatkan literasi masyarakat terkait bahaya TPPO dan TPPM serta mendorong migrasi yang aman dan sesuai prosedur.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media