Ekonomi . 19/06/2026, 23:56 WIB

Perundingan AS-Iran Batal, Harga Minyak Mentah Langsung Melonjak di Atas 80 Dolar AS

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Pasar energi global kembali berguncang. Harga minyak mentah Brent merangkak naik ke atas level 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel pada Jumat, 19 Juni 2026.

Para investor kini tengah menghitung ulang meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah menyusul pembatalan mendadak perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan militer terbaru Israel di Lebanon.

Pada Jumat pukul 07.00 GMT, pasar mencatat minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar 80,11 dolar AS per barel. Padahal, pada saat yang bersamaan, kondisi pelayaran komersial di Selat Hormuz sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Masalah Logistik Gagalkan Diplomasi Burgenstock

Sinyal kenaikan harga komoditas ini menguat setelah pemerintah Swiss memberikan pengumuman resmi. Otoritas Swiss menyatakan bahwa diskusi penting yang melibatkan delegasi AS dan Iran tidak akan berlangsung sesuai dengan jadwal semula.

Kementerian Luar Negeri Swiss menjelaskan bahwa pihak penyelenggara terpaksa membatalkan rencana diskusi di Burgenstock tersebut. Langkah ini menyusul pengumuman langsung dari Gedung Putih bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, tidak akan berangkat menuju Swiss.

"Wakil Presiden AS, JD Vance, tidak akan berangkat ke Swiss karena rincian logistik untuk pembicaraan teknis yang diharapkan dengan Iran masih belum terselesaikan."

Pembatalan agenda ini seketika memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku ekonomi terkait masa depan proses diplomasi kedua negara. Padahal, kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran sebelumnya telah berhasil meredakan konflik berkepanjangan yang sempat memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah dunia.

Ketegangan di Lebanon dan Situasi Terkini Selat Hormuz

Faktor lain yang mendorong kecemasan pasar adalah eskalasi militer yang kembali memanas di wilayah lain. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa serangan bom dan artileri Israel mengguncang Kota Nabatieh beserta wilayah sekitarnya pada Jumat dini hari. Serangan mematikan tersebut merenggut sedikitnya 24 korban jiwa serta melukai beberapa warga lainnya.

Meski tensi keamanan kembali meninggi, para penanam modal masih berfokus mengamati sinyal normalisasi arus distribusi energi yang melewati Selat Hormuz. Jalur maritim strategis tersebut perlahan mulai pulih dari kelumpuhan.

Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan langkah penting dengan mencabut pembatasan lalu lintas kapal menuju dan dari area pelabuhan serta perairan pesisir Iran. Sementara itu, Pusat Informasi Maritim Gabungan memberikan panduan taktis bagi dunia pelayaran demi menjaga keselamatan armada dagang mereka.

"menyarankan kapal-kapal yang melintasi selat tersebut untuk mengambil jalur yang lebih dekat ke garis pantai Oman guna mengurangi risiko ranjau laut."

Perbaikan di lapangan terlihat nyata saat sejumlah kapal tanker raksasa penyalur minyak mentah—yang sebelumnya tertahan berhari-hari—mulai bergerak keluar meninggalkan jalur perairan tersebut sejak hari Kamis.

Di samping itu, pemerintah Kuwait juga ikut memberikan sentimen positif dengan menyatakan bahwa mereka akan segera menaikkan volume produksi minyak bumi di negaranya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com