Internasional . 02/07/2026, 20:27 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Gelombang panas terparah dalam sejarah modern kini melanda hampir seluruh wilayah Eropa. Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini bukan lagi sekadar siklus alam, melainkan dampak nyata dari krisis iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil selama puluhan tahun.
Temuan tersebut disampaikan oleh konsorsium ilmuwan World Weather Attribution (WWA) di tengah lonjakan suhu yang memecahkan berbagai rekor di negara-negara Eropa Barat. Berdasarkan hasil analisis mereka, hampir setengah dari sekitar 850 kota terbesar di Eropa kini mengalami tingkat stres panas tertinggi sepanjang sejarah.
Stres panas merupakan kombinasi antara suhu udara yang sangat tinggi dengan kelembapan yang meningkat. Kondisi ini membuat tubuh manusia semakin sulit mendinginkan diri melalui proses berkeringat sehingga risiko gangguan kesehatan, bahkan kematian, meningkat drastis.
Inggris menjadi salah satu negara yang mencatatkan rekor baru. Pada Kamis (25/6), suhu di Somerset mencapai 36,7 derajat Celsius, menjadikannya suhu tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juni.
Sementara itu, sejumlah negara di Eropa Barat menghadapi situasi darurat. Rumah sakit dipenuhi pasien yang mengalami gangguan akibat panas, sekolah-sekolah terpaksa ditutup, jadwal perjalanan kereta api dan penerbangan terganggu, hingga muncul laporan korban jiwa akibat suhu yang sangat ekstrem.
Fenomena ini mengingatkan kembali pada musim panas 2022 ketika lebih dari 60 ribu orang meninggal dunia akibat gelombang panas di Eropa. Meski jumlah korban pada gelombang panas tahun ini masih dalam tahap perhitungan, para peneliti memperkirakan dampaknya akan sangat besar.
Analisis terbaru WWA menunjukkan bahwa kondisi panas ekstrem saat ini jauh lebih buruk dibandingkan beberapa dekade lalu karena peningkatan emisi karbon di atmosfer.
Menurut para ilmuwan, jika gelombang panas serupa terjadi pada tahun 2003, suhu diperkirakan akan sekitar 2 derajat Celsius lebih rendah dibanding sekarang. Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas bersejarah pada 1976, suhu saat ini diperkirakan mencapai 3,5 derajat Celsius lebih panas.
Tidak hanya suhu siang hari yang meningkat, suhu malam hari juga mengalami lonjakan signifikan. Kondisi malam yang sangat panas kini disebut 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan pada tahun 2003, membuat jutaan warga kesulitan beristirahat.
Peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London sekaligus anggota tim WWA, Dr Theodore Keeping, menyebut peristiwa kali ini sebagai gelombang panas paling luas yang pernah melanda Eropa.
Menurutnya, selama sekitar 50 tahun terakhir suhu rata-rata Bumi telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius, sehingga peluang munculnya gelombang panas ekstrem berubah secara drastis.
Ia menegaskan bahwa fenomena seperti ini hampir mustahil terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media