"Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn Indonesia takut/sungkan thdp Amerika ?" tanyanya.
"Has "FEAR" become a factor in Indonesian foreign policy ?"
Atau, lanjut Dino, situasi ini bisa jadi disebabkan oleh buruknya manajemen sistem politik luar negeri Indonesia saat ini.
Ia berpendapat bahwa undangan dari Iran mungkin tersangkut di berbagai meja birokrasi, dan tidak ada yang berani mengambil keputusan.
"Atau dikhawatirkan kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang bermasalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan."
Sebagai alternatif, Dino menyarankan agar Indonesia setidaknya bisa mengutus Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Ia menyebut nama Wakil Menteri Luar Negeri RI bidang agama Islam, Anis Matta, sebagai sosok yang ideal untuk mewakili Indonesia.
"Paling tidak Indonesia bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru sibuk keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin."
Menurut Dino, hal ini menunjukkan bahwa politik luar negeri bebas aktif Indonesia mungkin mulai goyah, tidak lagi tegas dalam menentukan sikap di tengah isu-isu internasional yang sensitif.
Iran, Sahabat Lama yang Terlupakan?
Dino Patti Djalal juga menyoroti aspek historis hubungan antara Indonesia dan Iran.
Ia menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan melupakan Iran sebagai sahabat lama Indonesia.
"Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara," ungkapnya.
Pengiriman delegasi resmi, menurut Dino, bukan sekadar formalitas diplomatik.
Hal itu seharusnya menjadi momen pembuktian konkret dari diplomasi bebas aktif Indonesia.