Hukum dan Kriminal . 24/07/2026, 21:40 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Insentif senilai Rp10 juta bagi warga yang membantu menangkap pelaku begal dan kejahatan jalanan, merupakan strategi psikologis untuk mencegah aksi main hakim sendiri, bukan ajakan memburu pelaku. Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM).
Pendekatan ini berupaya mengarahkan kepedulian masyarakat agar mau mengamankan pelaku kejahatan jalur hukum tanpa mengandalkan kekerasan massa.
Dedi memastikan hadiah uang tunai tersebut hanya akan diberikan jika pelaku kejahatan diserahkan langsung ke pihak kepolisian dalam kondisi utuh, serta telah ditetapkan secara resmi sebagai tersangka.
"Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan Rp10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi," ujar Dedi di Arcamanik Bandung, Jumat, 24 Juli 2026.
Mantan Bupati Purwakarta itu menggarisbawahi aturan main ketat terkait kondisi fisik pelaku saat diserahkan warga. Pemprov Jabar akan membatalkan pemberian hadiah jika terbukti ada penganiayaan atau tindak kekerasan berlebihan.
Persyaratan ketat ini menjadi bukti bahwa program insentif bertujuan murni untuk penegakan hukum yang tertib dan aman.
"Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," ujarnya.
Dedi menjelaskan, pendekatan berbasis insentif ini memanfaatkan tradisi penghargaan guna memacu kewaspadaan publik dan mengaktifkan kembali Pos Siskamling atau ronda malam yang sempat meredup di tengah maraknya aksi kejahatan jalanan.
Gubernur menilai dorongan atau motivasi konkret sangat efektif untuk menggerakkan kembali ronda malam di lingkungan masyarakat.
"Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi," terangnya.
Menjawab skeptisisme terkait pendekatan pragmatis ini, Dedi mengklaim efektivitas kebijakan tersebut langsung terasa di lapangan melalui meningkatnya partisipasi warga dalam menjaga keamanan lingkungan di wilayah aglomerasi Bandung Raya.
"Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai," kata Dedi menambahkan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media