Otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1,230 warga Palestina tewas akibat gempuran Israel sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada bulan Oktober lalu. Sementara itu, perhitungan pihak Israel mengonfirmasi empat tentara mereka tewas dalam kurun waktu yang sama.
Hamas Klaim Sudah Fleksibel dan Tuding Israel Rusak Jalur Diplomasi
Pihak penengah telah menerbitkan panduan baru untuk menghentikan perselisihan. Dewan Perdamaian Trump, yakni badan pimpinan AS yang mengawasi gencatan senjata, mengumumkan peta jalan 15 poin pada hari Jumat guna menetapkan langkah-langkah akhir pelaksanaan perjanjian.
Merespons peta jalan tersebut, Hamas menegaskan bahwa Israel wajib menghentikan penyerangan dan menarik seluruh pasukannya dari Gaza terlebih dahulu—sesuai ketentuan utama kesepakatan—sebelum mereka menyerahkan senjata kepada otoritas baru Palestina pengelola Gaza.
Pejabat senior Hamas, Basem Naim, menyatakan pada hari Minggu bahwa organisasinya sudah menunjukkan komitmen dan penyesuaian yang besar. Namun, ia mengkritik Israel yang justru sengaja mengintensifkan serangan untuk menciptakan kondisi de facto di lapangan.
“Eskalasi ini, bertepatan dengan kemajuan di jalur politik, jelas menunjukkan bahwa pemerintah pendudukan berusaha untuk melemahkan upaya yang bertujuan mengakhiri perang dan memaksakan fakta di lapangan dengan kekerasan,” kata Basem Naim dalam sebuah pernyataan.
Di samping itu, mantan pejabat senior Fatah, Mohammed Dahlan, membagikan informasi lewat unggahan Facebook dari tempat tinggalnya di Uni Emirat Arab. Ia menyebut Jared Kushner—menantu Trump sekaligus penasihat senior yang mengurusi inisiatif AS—telah menyampaikan kepadanya bahwa pihak AS terus berkoordinasi dengan Israel untuk menghentikan serangan.
Dahlan menegaskan kontak dengan pemerintah AS terus berjalan demi memastikan pelaksanaan kesepakatan secara utuh. Ia menambahkan, keberhasilan rencana damai ini sangat bergantung pada kepastian Israel untuk menghentikan gempuran harian mereka ke tanah Gaza.