Iran Ajukan Syarat Berat untuk Buka Selat Hormuz, Minta Kompensasi hingga Pencabutan Sanksi!
Iran menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan pencairan aset.
fin.co.id - Iran menetapkan sejumlah prasyarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Tuntutan tersebut berpotensi semakin mempersulit kesepakatan untuk membuka jalur air yang memiliki peran penting bagi ekonomi dunia.
Teheran telah menerapkan blokade efektif di Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari. Iran juga berencana memungut biaya lintas serta menyerang kapal-kapal yang dituduh berusaha menghindari rute pilihan Iran.
Serangan yang terus berlangsung di selat tersebut turut memengaruhi jalur pelayaran yang sebelumnya bebas dilintasi sebelum perang. Kondisi itu kemudian menyebabkan kegagalan gencatan senjata pada April, sementara para mediator sejak saat itu terus mendesak kedua pihak agar kembali mematuhi ketentuan dalam nota kesepahaman yang mereka sepakati pada Juni.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan diskusi dengan Oman mengenai lalu lintas dan pengelolaan Selat Hormuz sudah "mendekati tahap akhir". Namun, ia menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut masih bergantung pada sejumlah persyaratan.
Baca Juga
Araghchi menyebut pembukaan kembali Hormuz "bergantung pada syarat-syarat lain dan kompensasi atas pelanggaran" terhadap kesepakatan bulan Juni. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih mengaitkan pembukaan jalur strategis itu dengan penyelesaian persoalan yang muncul akibat konflik.
Kepala keamanan Mohammad Bagher Zolghadr pada hari Sabtu kemudian memaparkan daftar tuntutan Iran untuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Tuntutan tersebut mencakup penghentian "perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak."
Selain itu, Zolghadr menuntut pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, penghapusan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Hormuz "tidak ada kaitannya dengan negosiasi antara Iran dan Oman". Mereka juga menambahkan bahwa "pihak musuh terpaksa menerima syarat-syarat Iran untuk pembukaan selat tersebut."
Serangan Berulang Ganggu Lalu Lintas Kapal
Pernyataan Iran tersebut muncul ketika lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan. Iran menargetkan kapal-kapal yang dituduh berusaha menghindari rute pilihan mereka yang melintasi perairan Iran.
Baca Juga
Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab pada hari Sabtu mengecam apa yang disebutnya sebagai "serangan bermusuhan Iran yang menargetkan kapal tanker milik ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company) dengan rudal saat melintasi Selat Hormuz, tanpa menimbulkan korban jiwa."
Kemudian pada hari yang sama, UKMTO (United Kingdom Maritime Trade Operations) melaporkan bahwa sebuah kapal terkena proyektil di lepas pantai Oman di Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran, tetapi petugas berhasil memadamkannya tanpa menimbulkan korban jiwa.
Belum jelas apakah laporan UKMTO tersebut merujuk pada kapal yang sama dengan kapal tanker yang disebut Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab. Namun, pada hari Jumat, ADNOC mengeluarkan pernyataan bahwa sejak dimulainya perang, sebanyak 15 kapalnya telah diserang di Selat Hormuz, "termasuk tiga kapal pada minggu ini saja."
Kementerian Luar Negeri Oman pada hari Sabtu juga mengutuk "serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz," tanpa menyebut nama Iran. Oman sekaligus menyoroti pentingnya menjaga jalur perundingan yang tengah berlangsung.
Pihaknya menyatakan bahwa "negosiasi yang sedang berlangsung mengenai pengaturan navigasi di Selat Hormuz berjalan dalam suasana yang positif dan konstruktif". Oman juga mendesak semua pihak menghindari tindakan yang dapat membahayakan kemajuan dalam pembicaraan tersebut.