Folklor Betawi Diolah Jadi Fiksi, Cara Gen Z Kenali Warisan Budaya
Warisan budaya Betawi tidak harus berhenti sebagai cerita dari masa lalu.
fin.co.id - Warisan budaya Betawi tidak harus berhenti sebagai cerita dari masa lalu. Folklor yang memuat nilai, tradisi, ingatan, hingga cara pandang masyarakat dapat terus diwariskan dengan mengemasnya melalui karya yang lebih dekat dengan generasi muda.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pelatihan penulisan kreatif bertajuk “Dari Folklor ke Fiksi: Menulis Cerita Betawi untuk Generasi Baru”. Kegiatan itu digelar Perkumpulan Betawi Kita bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Perpustakaan Jakarta di Balai Sastra Hans Bague Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi penulis, sastrawan, budayawan, akademisi, serta anak muda untuk kembali menggali cerita rakyat Betawi. Folklor yang ditemukan kemudian diarahkan untuk dikembangkan menjadi cerita pendek dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan saat ini.
Sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pelajar, mahasiswa, penulis pemula, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.
Baca Juga
Sejumlah tokoh turut menjadi narasumber, di antaranya sastrawan sekaligus pemenang KSK 2025 Sasti Gotama, dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ige Azmin, budayawan Betawi sekaligus ketua pelaksana Fadjriah Nurdiarsih, serta penyair dan pemerhati sastra lisan Betawi Yahya Andi Saputra. Diskusi dipandu Nicky Rosadi.
Folklor Bisa Jadi Sumber Ide
Ige Azmin menilai bahan untuk mengembangkan cerita Betawi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak hanya cerita rakyat, tetapi tradisi, benda, kebiasaan, hingga berbagai praktik budaya juga dapat menjadi sumber inspirasi tulisan.
Menurutnya, seorang penulis tidak harus memahami seluruh aspek budaya Betawi terlebih dahulu sebelum mulai berkarya. Proses menulis justru dapat dimanfaatkan untuk menggali dan mempelajari budaya tersebut lebih dalam.
“Folklor itu berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam kelompok masyarakat. Bisa berupa cerita, tradisi, benda-benda, maupun hal-hal lain yang hidup di masyarakat,” ujar Ige.
Ia juga mendorong penulis membuat premis dan kerangka cerita sebelum menuangkan tulisan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengatasi kebuntuan ide sekaligus membuat proses kreatif lebih terarah.
Baca Juga
“Kalau kita menjadikan folklor tersebut sebagai sumber inspirasi dan bahan cerita pendek, itu justru bisa membuat kita lebih lancar menulis,” katanya.
Cerita Rakyat Dibawa ke Zaman Sekarang
Sasti Gotama mengatakan cerita rakyat Betawi memiliki peluang besar untuk kembali dikenal apabila disajikan dengan perspektif yang berbeda.
Menurut dia, kisah seperti Si Mirah, Si Pitung, hingga Si Manis Jembatan Ancol tidak harus sekadar ditulis kembali dalam bentuk aslinya. Penulis bisa mengambil nilai utama atau ruh cerita tersebut, lalu menghubungkannya dengan persoalan yang dihadapi masyarakat masa kini.
“Bagaimana menjadikan cerita masa lalu itu tetap relate, bisa mengambil roh dari cerita-cerita yang lalu dengan setting masa kini tanpa kehilangan ruh cerita-cerita rakyat Betawi,” ujarnya.