Nasional . 16/08/2026, 06:17 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengingatkan pada bencana gempa dan tsunami Flores 1992. Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang dapat menimbulkan kerusakan tambahan.
Irwan mengatakan terdapat sejumlah kesamaan antara gempa yang terjadi Sabtu ini dengan gempa Flores pada 1992, terutama dari sisi lokasi dan mekanisme sumber gempa.
Gempa terbaru tercatat sebagai gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Episentrumnya berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami dari BMKG hingga pukul 07.30 WIB.
Sementara itu, lokasi pusat gempa kali ini berjarak kurang dari 40 kilometer dari episentrum gempa Flores 1992 yang memiliki magnitudo 7,9.
"Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu," ujar Irwan.
Menurut Irwan, sumber gempa tersebut berada di kawasan Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Wilayah ini memiliki sejarah aktivitas gempa kuat, termasuk gempa magnitudo 6,6 pada 2009 serta rangkaian gempa yang melanda Lombok bagian utara pada 2018.
Waspadai Gempa Susulan
Irwan mengingatkan ancaman belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan catatan Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), segmen Flores Back Arc masih memiliki akumulasi energi yang belum seluruhnya dilepaskan.
Ia menilai pola yang terjadi pada rangkaian gempa Lombok 2018 dapat kembali muncul. Gempa utama berpotensi memengaruhi segmen patahan di sekitarnya dan memicu aktivitas kegempaan berikutnya.
Masyarakat pun diminta tidak mengurangi kewaspadaan, terlebih gempa susulan dengan kekuatan lebih dari magnitudo 6 masih berpotensi terjadi.
"Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Gempa susulan di atas enam masih bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan," ujar ahli gempa dan kadaster tersebut.
Besarnya dampak gempa M7,7, lanjut Irwan, tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan gempa. Kedalaman yang relatif dangkal sekitar 10 hingga 15 kilometer, posisi episentrum yang dekat dengan permukiman, serta kondisi tanah dan kualitas bangunan turut meningkatkan risiko kerusakan.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah bersama tim tanggap darurat segera melakukan pemeriksaan terhadap bangunan-bangunan strategis. Sekolah, fasilitas kesehatan, dan gedung pemerintahan dinilai perlu menjadi prioritas karena memiliki peran penting dalam penanganan korban dan proses pemulihan pascabencana.
"Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis. Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat," kata Irwan menambahkan. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media