Nasional . 18/08/2026, 22:53 WIB

Karhutla Gunung Bromo Padam, Operasi 15 Hari Resmi Berakhir dan Posko TNBTS Ditutup

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini memasuki tahap pasca-operasi. Setelah penanganan berlangsung selama 15 hari, petugas menyatakan api telah padam dan menutup posko penanganan darurat pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Komandan Korem 083 Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan penutupan posko menandai berakhirnya operasi penanganan darurat karhutla di wilayah TNBTS. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Posko Penanganan Darurat Bencana di Probolinggo.

"Hari ini posko penanganan darurat bencana karhutla di wilayah TNBTS resmi kami tutup," kata Komandan Korem 083 Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan dalam konferensi pers yang digelar di Posko Penanganan Darurat Bencana di Probolinggo.

Karhutla TNBTS Berdampak pada 1.121,66 Hektare

Wahyu menjelaskan operasi penanganan karhutla di kawasan TNBTS berlangsung sejak 3 hingga 17 Agustus 2026. Selama periode tersebut, tim menangani wilayah terdampak dengan luas mencapai 1.121,66 hektare.

Menurutnya, operasi berjalan aman, lancar, dan terkendali berkat kerja sama lintas sektor. Berbagai pihak ikut mendukung penanganan, mulai dari TNI-Polri, BPBD Jatim, BPBD empat kabupaten yang terdampak karhutla, TNBTS, BMKG, sukarelawan, masyarakat, hingga media.

Kolaborasi tersebut tidak hanya mendukung proses pemadaman, tetapi juga membantu penyebaran informasi kepada masyarakat. Wahyu menilai peran media penting untuk memastikan informasi yang beredar tetap benar sehingga tidak menimbulkan disinformasi mengenai kondisi karhutla di kawasan TNBTS.

Ia juga mengungkapkan sejumlah tantangan yang muncul selama operasi. Kondisi medan menjadi salah satu kendala karena terdapat tebing terjal dan kabut yang menghambat pelaksanaan water bombing.

Selain itu, sebagian besar vegetasi di kawasan terdampak berupa semak dan ilalang kering. Kondisi tersebut membuat vegetasi mudah terbakar ketika masih terdapat bara api.

"Selama penanganan karhutla kami menghadapi tantangan di antaranya kondisi medan dengan tebing terjal dan kabut yang menghalangi water bombing, serta vegetasi sebagian besar semak ilalang kering yang mudah terbakar ketika terdapat bara api," katanya.

Wahyu menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi dan sinergi banyak pihak. Dengan kerja sama tersebut, pengendalian kebakaran dapat dilakukan secara maksimal, terutama ketika petugas menghadapi kondisi medan dan vegetasi yang menyulitkan proses pemadaman.

Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Titik Api Baru

Setelah operasi berakhir, evaluasi dan langkah antisipasi menjadi perhatian berikutnya. Wahyu menilai sistem deteksi dini perlu diperkuat agar kemunculan titik api dapat diketahui dengan cepat.

Menurutnya, deteksi dini tidak cukup hanya mengandalkan patroli lapangan. Pengelola kawasan juga perlu memanfaatkan teknologi untuk membantu pemantauan wilayah yang rawan mengalami kebakaran.

"Deteksi dini tidak hanya melakukan patroli, tetapi harus menggunakan peralatan teknologi seperti CCTV, kamera drone, foto udara, sehingga memudahkan untuk mendeteksi dini titik api," katanya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com