Internasional . 21/08/2026, 08:24 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington tengah menyiapkan sanksi ekonomi yang disebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.
Bessent mengatakan langkah tersebut akan menjadi bagian dari upaya isolasi ekonomi yang melibatkan negara-negara sekutu AS.
Washington bahkan disebut akan meminta negara-negara sekutunya menentukan sikap, apakah berada di pihak AS atau tetap melakukan transaksi dengan Iran.
"Tekanan ekonomi ini berarti kami akan melibatkan semua sekutu kami dan ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," kata Bessent kepada media ekonomi CNBC.
AS Ancam Negara yang Tetap Bertransaksi dengan Iran
Bessent mengatakan AS akan "menawarkan" kepada negara-negara sekutunya untuk memilih apakah mereka akan bersama AS atau melawan AS.
Peringatan tersebut ditujukan kepada negara-negara yang masih melakukan transaksi dengan Iran, termasuk aktivitas perdagangan minyak maupun transfer dana.
"Jika Anda bersikeras melakukan transaksi dengan mereka (Iran), baik itu mentransfer uang, membeli minyak mereka, atau mereka melakukan transfer melalui kapal laut, maka Departemen Keuangan AS dan Pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan dan kekuasaan untuk menindak kalian," katanya.
Menurut Bessent, negara-negara sekutu AS dan masyarakat internasional kini harus menentukan sikap terhadap Iran.
AS Klaim Ekonomi Iran Akan Terpukul
Bessent mengatakan tekanan ekonomi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan pemerintah Iran dalam membiayai kekuatan militernya dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya.
"Dan kami akan menghancurkan perekonomian rezim pembunuh ini, yang akan membatasi kemampuan mereka untuk memproyeksikan kekuasaan melalui antek-anteknya. Dengan demikian, hal itu berarti mereka (Iran) tidak akan bisa membayar tentara, dan kita akan menghadapi inflasi yang signifikan, baik inflasi harga pangan maupun inflasi umum di Iran," kata Bessent.
Dia juga mengatakan kebijakan ekonomi tersebut akan berdampak terhadap harga minyak.
Kepada wartawan di Gedung Putih, Bessent menyebut langkah ekonomi yang disiapkan AS akan membuat harga minyak turun lebih cepat dibandingkan kenaikan harga yang terjadi akibat "kemacetan" di Selat Hormuz.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media