Nasional . 03/09/2026, 17:43 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan fenomena tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berjalan secara independen dan tidak saling memicu.
Enam gunung api yang mengalami erupsi serentak itu mencakup Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan kondisi tersebut masih memungkinkan terjadi karena Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Indonesia memiliki 127 gunung api aktif sehingga beberapa gunung dapat mengalami erupsi pada hari yang sama tanpa menunjukkan adanya keterikatan sistemik.
Rita menyampaikan penjelasan tersebut di Kompleks Badan Geologi Bandung, Rabu, 2 September 2026. Menurutnya, setiap gunung api memiliki sistem dan proses vulkanik masing-masing yang dapat berkembang menuju erupsi dengan mekanisme berbeda.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," kata Rita.
Dengan kondisi tersebut, PVMBG memastikan erupsi yang terjadi pada enam gunung api tersebut tidak menunjukkan adanya satu pemicu geologi yang sama. Masing-masing gunung tetap menjalankan dinamika vulkaniknya sendiri.
Rita juga meluruskan persepsi publik mengenai gempa bumi yang kerap dikaitkan dengan aktivitas erupsi gunung api. Menurutnya, gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi pada gunung api.
PVMBG baru dapat mengaitkan aktivitas gempa dengan proses menuju erupsi apabila data pemantauan internal gunung menunjukkan adanya perubahan. Data tersebut antara lain mencakup lonjakan kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, hingga perubahan pada pelepasan gas.
Karena itu, kemunculan gempa bumi tidak bisa langsung menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah gunung api akan mengalami erupsi. PVMBG perlu melihat perkembangan berbagai parameter pemantauan gunung untuk memastikan adanya hubungan antara aktivitas tektonik dan aktivitas vulkanik.
Dinamika erupsi yang terjadi secara bersamaan tersebut turut berkaitan dengan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara. PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB.
Peningkatan status tersebut terjadi setelah Gunung Sinabung menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak. PVMBG kemudian meminta masyarakat mengikuti rekomendasi bahaya yang berlaku di sekitar kawasan gunung.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berada pada Level III (Siaga). Status tersebut sudah berlaku sejak 2 Juli 2026, sedangkan pada 31 Agustus 2026 gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi 200 meter.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media