Nasional . 03/09/2026, 07:41 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Jumlah santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Sidoarjo, yang masih menjalani perawatan akibat dugaan keracunan makanan kini tinggal 34 orang.
Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan puluhan santri tersebut masih dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo. Kondisi mereka disebut terus membaik.
"Tinggal 34 santri yang masih dirawat di RSI Siti Hajar. Semua sudah dalam keadaan membaik dan sehat," kata Subandi usai mengunjungi korban di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Rabu 2 September 2026.
Subandi memastikan kondisi 34 santri yang masih berada di rumah sakit dalam keadaan baik. Ia menyebut para santri tersebut diperkirakan sudah dapat meninggalkan rumah sakit pada Kamis pagi.
Sementara itu, seluruh santri yang sebelumnya mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro Sidoarjo telah diperbolehkan pulang.
Lima santri yang dipulangkan pada Rabu 2 September sore menjadi pasien terakhir dari korban dugaan keracunan yang menjalani perawatan di RSUD Notopuro.
"Tersisa 34 santri yang sedang di rawat di RSI Siti Hajar saja. Selain itu semua sudah pulang," kata Subandi.
Dugaan keracunan makanan tersebut terjadi di Ponpes Manba'ul Hikam pada Selasa 1 September. Sedikitnya 566 santri dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, sakit perut hingga lemas.
Namun, kasus tersebut ternyata tidak hanya terjadi di Ponpes Manba'ul Hikam. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak pada Rabu dini hari menyebut dugaan keracunan juga terjadi di 18 lembaga pendidikan lainnya di wilayah Sidoarjo.
Para korban diketahui mengonsumsi makanan yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin Kali Tengah, Sidoarjo, pada Selasa 1 September.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu siang menerbitkan surat penghentian sementara atau suspend berat terhadap operasional SPPG yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan yang disajikan.
Hasil uji laboratorium tersebut diperkirakan baru dapat diketahui paling cepat dalam waktu satu minggu. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan yang dialami para santri dan peserta didik lainnya. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media