Tak Mau Disalahkan Kasus Keracunan MBG, Mitra SPPG Tana Toraja: Sudah Tahu Makanan Bau Kenapa Dimakan
"Itu yang terjadi, setelah itu baru kita distribusikan ke sekolah. Nah, ada berbagai informasi yang katanya mau makan sudah busuk, kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan, tabe," cetus Louice.
Dia juga meminta kasus tersebut tidak dijadikan momentum untuk saling mencari kesalahan. Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyediaan MBG telah bekerja dengan disiplin.
"Kami orang-orang yang berintegritas, berdisiplin tinggi dalam bekerja di dapur kami. Kembali lagi terkait kondisi ini saya sebagai mitra yayasan memohon maaf yang sebesar-besarnya, betul-betul di luar kendali kami," papar Louice.
173 Siswa dan Guru Keracunan MBG
Kasus dugaan keracunan MBG di Tana Toraja sendiri telah membuat ratusan siswa dan guru harus mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga
Berdasarkan data Satgas MBG Tana Toraja hingga Jumat 4 September 2026 pukul 20.30 Wita, sebanyak 173 siswa dan guru diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG.
Dari jumlah tersebut, 165 orang menjalani perawatan di tiga rumah sakit. Sementara delapan orang lainnya dirawat di tiga puskesmas.
DPRD Tana Toraja kemudian meminta pihak penyedia MBG bertanggung jawab terhadap dampak yang dialami para korban.
Wakil Ketua II DPRD Tana Toraja Evivana Rombe Datu mengatakan biaya pengobatan korban yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan harus menjadi tanggung jawab pihak terkait.
"Seluruh biaya pengobatan atau kebutuhan korban yang tidak terjangkau BPJS Kesehatan wajib ditanggung oleh KPPG, BGN, dan SPPG terkait secara berkelanjutan. Jangan ada yang dilimpahkan kepada korban," ujar Evivana saat membacakan hasil rekomendasi RDP.
Tak hanya soal biaya pengobatan, DPRD juga meminta operasional SPPG Makale Batupapan 1 dihentikan sementara.
Baca Juga
Penghentian dilakukan sampai hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel MBG yang telah dikirim ke Makassar diketahui.
DPRD meminta pemeriksaan terhadap sampel makanan, muntahan, kotoran, hingga air dipercepat untuk mengungkap penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
"Mendorong dinas kesehatan dan kepolisian mempercepat pemeriksaan sampel makanan, muntahan, kotoran, dan air di laboratorium. Sekolah juga diminta membentuk Satgas pengawasan keamanan makanan serta pos pelayanan pengaduan cepat," jelasnya.
Hasil uji laboratorium nantinya diharapkan dapat menjawab dugaan sumber keracunan serta memastikan pihak yang harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut. *