IHSG Berpotensi Sideways, Investor Cermati The Fed, Geopolitik, hingga Dampak Erupsi Anak Krakatau
IHSG berpotensi sideways di tengah sentimen The Fed, geopolitik, bursa global, dan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
fin.co.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 7 September 2026, berpotensi cenderung mendatar atau sideways karena investor masih mencermati berbagai sentimen dari pasar global dan domestik. Di awal perdagangan, IHSG justru menguat 15,61 poin atau 0,24 persen ke posisi 6.652,09.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut menguat 1,43 poin atau 0,22 persen ke posisi 659,02. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah pergerakan indeks sepanjang perdagangan.
"IHSG diperkirakan rentan koreksi lanjutan menuju support terdekat 6.595 atau 6.551 dan 6.525. Adapun jika mampu rebound IHSG potensi kembali ke resistance 6.681 atau 6.704 dan lanjut tutup area gap 6.723.,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin .
Sentimen The Fed dan Geopolitik Jadi Perhatian
Dari mancanegara, sentimen pasar bergerak variatif. Investor masih berhati-hati setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter.
Baca Juga
Meski demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 mulai berkurang. Kondisi tersebut muncul setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga apabila tekanan harga terus mereda.
"Perubahan ekspektasi itu kemudian memberikan dorongan terhadap aset berisiko di sejumlah pasar Asia," ujar Liza.
Di sisi lain, risiko geopolitik masih menjadi perhatian investor. Ketegangan antara AS dengan Iran masih berlanjut, sementara risiko terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah juga meningkat.
Perkembangan tersebut membuat investor tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gangguan perdagangan dan rantai pasok global. Selain itu, konflik Rusia dengan Ukraina masih menjadi faktor risiko karena berpotensi mempengaruhi pasar komoditas dan inflasi global.
Dari kawasan Asia, kebijakan pemerintah China juga menjadi perhatian pasar. Beijing mengumumkan suntikan modal sekitar 54 miliar dolar AS kepada perusahaan asuransi dan bank milik negara.
Baca Juga
China Life Insurance akan menerima sebesar 35 miliar yuan, sedangkan China Taiping Insurance memperoleh 7 miliar yuan. Sejumlah perusahaan lain juga mendapatkan tambahan modal.
Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat permodalan dan solvabilitas sektor keuangan. Selain itu, langkah tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan perusahaan asuransi milik negara dalam mendukung stabilitas pasar modal.
Erupsi Anak Krakatau Beri Tekanan dari Dalam Negeri
Dari dalam negeri, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian karena berdampak pada operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara menghentikan sementara operasional penerbangan hingga pukul 08.59 WIB pada 7 September 202, di antaranya Soekarno-Hatta, Radin Inten II, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, dan M. Taufik Kiemas.
Gangguan pada operasional penerbangan tersebut berpotensi memengaruhi sejumlah aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen domestik yang perlu diperhatikan pelaku pasar selama perdagangan berlangsung.