Rupiah Melemah ke Rp17.646 di Awal Pekan, Tekanan Datang dari Geopolitik Timur Tengah hingga The Fed
Rupiah melemah ke Rp17.646 per dolar AS akibat ketegangan Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga The Fed.
fin.co.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin setelah pasar mencermati perkembangan geopolitik dan sejumlah sentimen ekonomi global. Rupiah melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.646 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.642 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan rupiah pada perdagangan pagi ini. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga minyak mentah di pasar.
“Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Ibrahim kepada ANTARA di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Menurut dia, meningkatnya ketegangan tersebut turut mengangkat indeks dolar AS dan harga minyak mentah, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak kemudian berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor minyak.
Baca Juga
Harga Minyak Naik, Kebutuhan Dolar Ikut Meningkat
Ibrahim menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 91,92 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,62 juta per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent berada di sekitar 96,55 dolar AS per barel atau setara Rp1,70 juta per barel.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor. Pemerintah membutuhkan dolar AS dalam jumlah lebih besar ketika harga minyak yang harus dibayar ikut meningkat.
“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujarnya.
Selain sentimen dari pasar global, kondisi dalam negeri juga ikut menjadi perhatian pelaku pasar. Ibrahim mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau turut memengaruhi kegiatan ekonomi karena gangguan terhadap penerbangan.
"Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup," tutur dia.
Baca Juga
Pasar Menanti Data Ekonomi Domestik
Ibrahim juga mengatakan pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi domestik. Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.
Data-data tersebut menjadi salah satu perhatian pasar dalam melihat kondisi perekonomian Indonesia. Karena itu, perkembangan indikator ekonomi domestik dapat turut menjadi sentimen bagi pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Di sisi lain, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyoroti perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS), khususnya data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Menurut dia, kondisi tersebut meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga kebijakan The Fed pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026.
Nonfarm payrolls AS meningkat sebesar 162 ribu pada Agustus 2026. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 55 ribu dan angka bulan sebelumnya yang telah direvisi menjadi 21 ribu, sedangkan tingkat pengangguran tetap sebesar 4,1 persen.