Viral . 10/09/2026, 10:30 WIB

Viral, Pengusaha Sound Horeg Hina Fatwa MUI Jatim dengan Sebutan Goblok

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

"Jadi, karena yang beliau sampaikan tentu ini adalah pandangan subjektif mereka, ya. Jadi yang misalnya yang mereka sampaikan adalah pendapat-pendapat yang sudah sesuai narasi, yang sudah sesuai dengan edaran Gubernur, dan lain sebagainya," ujar Kiai Ma'ruf.

Ia kemudian menjelaskan bahwa jumlah pemilik sound horeg mencapai ribuan. Dari kondisi tersebut, MUI menerima informasi mengenai pelaku usaha yang menaati aturan, tetapi ada pula yang dinilai melanggar.

"Tetapi kalau kemudian dieksplor lebih jauh, karena pemilik sound ini, pemilik sound horeg ini tidak hanya beliau, ribuan, ya. Dan kemudian yang sampai ke kami, kami secara objektif ini yang kemudian menaati aturan. Tetapi banyak pula yang kemudian tidak mematuhi terhadap aturan. Nah, yang beliau sampaikan ini adalah yang baik-baiknya saja," lanjutnya.

Singgung Dancer dan Miras

Kiai Ma'ruf juga menyoroti sejumlah fenomena yang menurutnya terjadi dalam aktivitas sound horeg tetapi tidak disebutkan oleh Setyo.

Ia mengatakan keberadaan penari atau dancer masih ditemukan dalam sejumlah pertunjukan sound horeg. Bahkan, menurutnya, terdapat pula kegiatan yang berkaitan dengan minuman keras.

"Sementara peristiwa-peristiwa yang memang di situ melanggar mulai dari aturan dan lain sebagainya, tadi beliau bilang tidak ada dancer, itu mungkin di bagian beliau, tapi di bagian realitas yang lain jauh lebih besar, tinggal mudah kita melihat di YouTube bagaimana setiap ada yang namanya sound horeg selalu ada dancer-nya, bahkan sudah mulai terang-terangan minuman keras. Ini enggak pernah disampaikan oleh beliau," tambah Kiai Ma'ruf.

Menanggapi ucapan Setyo yang menyebut MUI dengan istilah "goblok", Kiai Ma'ruf mengatakan keberadaan dirinya di MUI bukan tanpa proses.

Ia menjelaskan bahwa anggota MUI berasal dari berbagai organisasi Islam dan melalui proses seleksi. Menurutnya, peran MUI adalah menjaga masyarakat agar tidak terjerumus pada persoalan yang lebih berat.

"Kemudian, terkait dengan tuduhan kalau kami di MUI misalnya adalah. dengan cara bahasa beliau tadi (digoblokan), mohon maaf, kami ini kemudian bukan masuk dengan tiba-tiba masuk, tapi ada seleksinya. Kami diambil dari organisasi Islam, tidak sembarangan orang kemudian berada di sana," lanjutnya.

Kiai Ma'ruf kemudian mengibaratkan peran MUI seperti polisi yang menegur pengendara motor karena tidak menggunakan helm. Teguran tersebut, menurutnya, bukan bentuk kebencian, melainkan bagian dari upaya menjaga masyarakat.

"Kami justru, ya, justru yang kami lakukan dari MUI ini adalah menjaga. Ibarat ada seorang polisi, ya, ada di kepolisian, lalu kemudian ada orang naik motor tidak pakai helm, oleh polisi dihentikan, itu adalah bagian kecintaan dia terhadap masyarakat supaya kalau ada apa-apa dia tidak sampai terjerumus kepada hal-hal yang berat," katanya.

Ia pun mengaku tidak mempermasalahkan berbagai tudingan yang diarahkan kepada MUI dalam menjalankan tugasnya.

"Memang seperti biasa, bagi saya kami dituduh seperti itu biasa," lanjutnya. *

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com