Internasional . 12/09/2026, 18:47 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Namun, Iran tetap memasang sejumlah syarat. Teheran menginginkan Washington terlebih dahulu mencabut blokade dan kembali pada kesepakatan yang pernah dibahas dalam Memorandum of Understanding (MoU).
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni juga tidak bertahan lama dan kemudian runtuh. Situasi itu membuat Iran berada dalam posisi serba sulit.
Di satu sisi, perang membuat biaya ekonomi dan militer semakin besar. Di sisi lain, sebagian elite Iran menilai menghentikan perlawanan tanpa adanya jaminan bahwa AS tidak akan kembali menyerang justru dapat membuat negara mereka semakin rentan.
Iran Siapkan Strategi Balasan
Analis Bloomberg Economics Dina Esfandiary menilai para pemimpin Iran melihat pemerintahan Donald Trump sebagai pihak yang lebih mungkin merespons ancaman dan eskalasi dengan tindakan tegas.
Iran juga dinilai mulai menyusun pilihan respons yang lebih cepat dan efektif terhadap setiap peningkatan serangan dari Amerika Serikat.
Jika penilaian tersebut benar, maka perang AS-Iran berpotensi memasuki pola baru. Setiap serangan tidak lagi sekadar dibalas, tetapi dapat diikuti dengan tindakan yang lebih besar.
Kondisi seperti ini membuat kesalahan perhitungan menjadi salah satu ancaman terbesar. Satu serangan yang awalnya dimaksudkan sebagai tekanan terbatas bisa saja memicu rangkaian serangan yang jauh lebih luas. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media