Internasional . 16/09/2026, 23:54 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Otoritas Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udara mereka telah mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak (drone) yang diduga diluncurkan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, Rabu, 16 September 2026.
Drone tersebut berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Mekkah, kota paling suci bagi umat Islam.
Klaim tersebut diumumkan oleh Komando Pasukan Gabungan dari koalisi yang masih disebut sebagai koalisi pimpinan Saudi. Aliansi multinasional yang dibentuk pada tahun 2015 ini sebagian besar telah terpecah, sehingga operasi saat ini didominasi oleh Arab Saudi dan pasukan Yaman yang didukung Saudi.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengatakan bahwa keamanan Mekkah dan para jemaahnya merupakan "garis merah" dan memperingatkan bahwa komando tersebut akan mengambil "langkah-langkah yang diperlukan dan bersifat mencegah (deterrent)."
Menurut pernyataan tersebut, Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Saudi mencegat dan menghancurkan drone musuh yang "diluncurkan oleh Milisi Teroris Houthi."
Arab Saudi sebelumnya telah mengeluarkan peringatan singkat pada Selasa, 15 September 2026, mengenai kemungkinan serangan di Mekkah dan di wilayah selatan kerajaan yang berbatasan dengan Yaman.
Pihak Houthi sendiri membantah telah menargetkan Mekkah, yang menjadi tujuan ibadah haji tahunan umat Muslim. Houthi menolak klaim koalisi tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan."
"Klaim mengenai penargetan Mekkah adalah kebohongan usang yang pernah digunakan sebelumnya dan tidak lagi bisa mengelabui siapa pun," tulis Hazem al-Assad, seorang anggota senior gerakan Houthi, di platform X.
Eskalasi yang terus meningkat ini telah membuka front baru di Timur Tengah, kawasan yang sebelumnya sudah bergulat dengan ketegangan akibat konflik AS dengan Iran.
Menyikapi perkembangan terbaru ini, Kedutaan Besar AS di Arab Saudi mengeluarkan imbauan yang meminta warganya untuk "mempertimbangkan kembali rencana perjalanan" ke kerajaan tersebut.
Pihak kedutaan memperingatkan adanya "risiko serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal Iran yang menyasar kepentingan Amerika, konflik bersenjata, terorisme, larangan keluar wilayah, serta aturan hukum setempat terkait aktivitas di media sosial."
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media