Nasional . 18/09/2026, 15:23 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan kualitas bahan makanan menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan dalam kasus gangguan kesehatan pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Sudaryono, bahan makanan yang mengalami kerusakan, terutama lauk dengan kandungan protein hewani, menjadi perhatian dalam pengawasan penyediaan makanan bagi penerima manfaat.
Jenis bahan yang dimaksud antara lain ayam, telur, ikan, daging serta berbagai olahannya. Ia menilai kondisi bahan baku harus menjadi perhatian sejak awal karena turut menentukan keamanan makanan yang disajikan.
"Sampai dengan sejauh ini saya kan 50 hari jadi kepala BGN, kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur. Lebih banyak lauk, lebih banyak didominasi oleh protein hewani. Apakah ayam, telur, ikan, daging dan sebagainya, dengan olahan lainnya," kata Sudaryono, Jumat, 18 September 2026.
Sudaryono mengatakan pemeriksaan terhadap makanan tidak dapat hanya berfokus pada tahapan pengolahan. Kondisi bahan sebelum dimasak juga harus dipastikan memenuhi standar keamanan pangan.
Ia menjelaskan, proses memasak yang dilakukan sesuai prosedur tidak otomatis menjamin makanan aman apabila bahan baku yang digunakan sudah tidak layak.
"Sehingga penting ya kami sudah sampaikan di dalam bahwa salah satunya adalah bahan bakunya mesti benar. Mau masaknya benar kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap aja," ujarnya.
Untuk memperkuat pengawasan, BGN mulai melakukan pengetatan pada tahapan penerimaan bahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Salah satu mekanisme yang mulai diterapkan adalah pencatatan atau absensi ketika bahan baku tiba dan diterima oleh pihak dapur MBG. Langkah tersebut diharapkan membuat proses penerimaan bahan lebih mudah dipantau.
Selain memperketat penerimaan bahan, BGN juga tengah mengembangkan sistem pengadaan yang menyerupai marketplace. Sistem tersebut akan difokuskan, antara lain, pada penyediaan bahan protein hewani yang membutuhkan penanganan khusus.
Sudaryono mengatakan sistem tersebut dirancang untuk memastikan kesesuaian antara kualitas bahan yang dipesan dengan bahan yang benar-benar diterima di dapur MBG.
Selain aspek kualitas, mekanisme itu juga diarahkan untuk menjaga kewajaran harga serta mencegah terjadinya penggelembungan biaya dalam proses pengadaan.
"Kami lagi bangun supaya bahan-bahan baku protein hewani khususnya ini yang special handling ini betul-betul kualitasnya benar, dibeli dengan harga yang benar, tidak ada mark-up. Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A, tapi ternyata yang datang kualitasnya D," kata Sudaryono.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media