Ini Dereta Ucapan Prabowo yang Tak Pantas Saat Pidato: Dari Ndasmu hingga Goblok
Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, ia juga menggunakan berbagai istilah atau ungkapan yang dianggap kasar, nyeleneh, atau tidak lazim digunakan dalam pidato seorang kepala negara.
Istilah tersebut disampaikan dalam pidato peringatan Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, 23 Juli 2026.
Prabowo ketika itu membahas pihak-pihak yang menurutnya melayani kepentingan asing. Ia mengatakan istilah “londo ireng” pada masa lalu digunakan untuk menyebut orang Indonesia yang dianggap bekerja sama dengan Belanda dalam perjuangan kemerdekaan.
Prabowo kemudian mengaitkan istilah tersebut dengan sebagian wartawan, analis dan organisasi masyarakat sipil yang menurutnya memiliki kepentingan dengan pihak asing.
The Jakarta Post mencatat bahwa “londo ireng” secara harfiah berarti “orang Belanda hitam” dalam bahasa Jawa dan secara historis merujuk kepada orang pribumi yang dituduh bekerja sama dengan kekuatan kolonial Belanda.
Baca Juga
6. “Nye Nye Nye”
Prabowo juga beberapa kali menggunakan gaya mengejek dalam pidatonya.
Saat menghadiri Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung pada Juni 2026, ia menirukan ekspresi orang yang menurutnya hanya nyinyir dengan ucapan “nye nye nye”.
Ungkapan tersebut disampaikan ketika Prabowo membicarakan kritik terhadap kondisi ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.
7. Terbaru, “Saking Pintarnya Jadi Goblok”
Ucapan terbaru yang kembali memicu sorotan adalah kata “goblok” yang ditujukan Prabowo kepada pihak yang disebutnya sebagai pakar.
Baca Juga
Pernyataan itu disampaikan dalam HUT ke-28 PAN pada 18 September 2026.
Prabowo mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan kritik. Namun, ia mempersoalkan pihak yang menurutnya menggunakan status sebagai pakar untuk menyampaikan tudingan yang dianggapnya sebagai fitnah.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.
Setelah itu, Prabowo menekankan bahwa seorang cendekiawan seharusnya memiliki kejujuran intelektual.
“Kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual,” ujar Prabowo.