Internasional . 27/09/2026, 23:44 WIB

Iran Kirim Sinyal Keras ke AS: Jalur Diplomasi Terbuka, Perang Pun Siap!

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Iran menawarkan skema tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tetapi, Teheran mensyaratkan sejumlah langkah dari Washington, sebelum jalur pelayaran vital itu kembali dibuka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, AS harus terlebih dahulu mengakhiri perang, mencairkan aset Iran yang dibekukan, mencabut blokade, dan mengizinkan Iran menjual minyaknya.

Araghchi menyampaikan tawaran tersebut pada Minggu, 27 September 2026. Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap membuka pintu perundingan dengan AS. Namun, di saat yang sama, ia menyatakan Teheran telah menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan serangan militer baru.

"Kami siap untuk diplomasi. Pada saat yang sama, kami siap untuk perang," kata Araghchi kepada program Meet the Press di NBC.

Proposal Tujuh Hari Iran

Menurut Araghchi, Iran telah mendengar Presiden Donald Trump menolak proposal tersebut. Meski demikian, Teheran masih menunggu tanggapan resmi dari Washington melalui pihak penengah.

"Proposal kami sangat jelas. Kami siap membuka selat itu jika langkah-langkah tertentu dilakukan oleh AS," ujarnya.

Araghchi menjelaskan, Washington dinilai dapat memenuhi langkah-langkah yang diminta Iran dalam waktu empat atau lima hari. Setelah itu, berdasarkan urutan yang diajukan, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz pada hari keenam.

Pada hari ketujuh, Iran dan AS akan melanjutkan negosiasi untuk membahas kesepakatan akhir. Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—sebuah jalur pelayaran vital yang strategis—menyusul serangan AS-Israel pada bulan Februari dan blokade maritim terhadap negara tersebut.

Iran Tetap Siap Hadapi Perang

Di tengah tawaran diplomasi tersebut, Araghchi juga mengungkapkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap negosiasi dengan pemerintahan Trump. Ia menuduh Washington menyerang Iran saat perundingan berlangsung pada tahun 2025 dan 2026, serta melanggar kesepakatan yang dicapai tak lama setelah penandatanganannya.

"Selalu ada harapan untuk diplomasi," katanya. "Namun, saya tetap mengupayakan diplomasi karena menurut saya kita tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian."

Ketika ditanya apakah dirinya memercayai Trump, Araghchi memberikan jawaban singkat: "Kami memercayai diri kami sendiri."

Araghchi juga membantah anggapan bahwa Iran menjadi pihak pertama yang melanggar nota kesepahaman bulan Juni dengan AS. Menurut dia, apabila Washington menilai Teheran telah melanggar kesepakatan tersebut, AS seharusnya menggunakan ketentuan penyelesaian sengketa dalam kesepakatan sementara itu, bukan membom Iran.

Sementara itu, mengenai kemungkinan serangan lanjutan dari AS, Araghchi mengatakan Iran telah mengambil pelajaran dari pertempuran sebelumnya dan mengubah taktik militernya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com