Kasus Keracunan MBG di Tulungagung Terus Diusut, Ratusan Siswa Jadi Korban, Apa Hasil Laboratorium?
Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah evaluasi setelah muncul laporan gangguan pencernaan yang dialami ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tulungagung, Jawa Timur.
Keputusan tersebut memberikan ruang bagi BGN untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh sekaligus melakukan perbaikan terhadap sistem kerja dapur.
BGN Pastikan Keamanan Program MBG
Penghentian operasional SPPG Tanjungsari 1 selama 20 hari menjadi bagian dari upaya BGN menjaga kualitas dan keamanan program Makan Bergizi Gratis.
Program MBG dirancang untuk memberikan makanan bergizi kepada kelompok penerima manfaat, khususnya peserta didik. Karena itu, aspek keamanan pangan menjadi salah satu hal yang tidak bisa diabaikan.
Baca Juga
Setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi perlu dilakukan dengan memperhatikan standar yang telah ditentukan.
Evaluasi juga dibutuhkan agar potensi masalah dapat segera diketahui dan diperbaiki sebelum dapur kembali melayani penerima manfaat.
BGN menyatakan selama masa penghentian, fokus diarahkan pada pembinaan dan penyempurnaan standar operasional prosedur.
Menunggu Hasil Pemeriksaan untuk Menentukan Penyebab
Sampai saat ini, penyebab pasti gangguan pencernaan yang dialami 198 siswa dan guru masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Karena itu, kejadian tersebut belum dapat secara langsung disimpulkan disebabkan oleh satu jenis makanan tertentu.
Baca Juga
Hasil pemeriksaan sampel di BBLKM Surabaya nantinya menjadi salah satu bahan penting dalam proses evaluasi.
Di sisi lain, BGN juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap sistem operasional SPPG, termasuk penyusunan menu dan proses distribusi makanan.
Langkah tersebut dilakukan agar setiap potensi risiko dapat diidentifikasi dan ditangani. (*)