Megapolitan . 17/10/2026, 10:40 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar daerah, termasuk Pulau Kalimantan, secara meteorologis berpotensi mencapai wilayah DKI Jakarta. Namun, kemungkinan tersebut perlu dibuktikan melalui data pergerakan angin dan analisis atmosfer yang akurat.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa meskipun Indonesia tengah mengalami pola angin timuran, pergerakan asap lintas wilayah tetap mungkin terjadi akibat dinamika atmosfer.
"Bagaimana asap karhutla bisa sampai Jakarta? Secara meteorologis pergerakan tersebut tetap mungkin terjadi, namun peluang serta jalur penyebarannya harus dibuktikan secara valid menggunakan data angin aktual," kata Daryono dalam keterangan.
Daryono menerangkan, angin timuran merupakan pola sirkulasi yang dominan selama musim kemarau di Indonesia. Meski demikian, arah dan kecepatan angin dapat berubah bergantung pada lokasi, ketinggian, waktu, serta kondisi atmosfer.
Karena itu, arah angin di Kalimantan belum tentu sama dengan pergerakan angin di Laut Jawa maupun Jakarta.
Selain faktor angin, partikel halus PM2.5 yang dihasilkan karhutla juga dapat terangkat melalui turbulensi dan konveksi hingga mencapai ketinggian ratusan bahkan ribuan meter. Pada lapisan atmosfer tersebut, arah angin bisa berbeda dari angin di permukaan sehingga memungkinkan asap bergerak melalui jalur yang berbeda.
Menurut Daryono, gangguan atmosfer, daerah tekanan rendah, sirkulasi siklonik, hingga masa peralihan monsun juga dapat memicu perubahan pola angin untuk sementara waktu.
Kondisi tersebut berpotensi membawa partikel asap hingga ratusan kilometer apabila terbentuk aliran udara yang mengarah ke Laut Jawa dan Jakarta.
Meski demikian, selama perjalanan, asap akan mengalami pengenceran, pencampuran dengan udara, transformasi kimia, serta pengendapan. Besarnya dampak yang ditimbulkan di Jakarta bergantung pada sejumlah faktor, seperti volume emisi, kecepatan angin, curah hujan, dan stabilitas atmosfer.
Daryono juga menjelaskan bahwa partikel PM2.5 yang berasal dari karhutla dapat dibedakan dari polutan emisi kendaraan melalui analisis ilmiah. Namun, alat pemantau PM2.5 konvensional tidak dapat secara langsung memastikan sumber polusi ketika berbagai jenis emisi telah bercampur di udara.
Ia menegaskan bahwa penjelasannya mengenai kemungkinan asap karhutla mencapai Jakarta bukan berarti dirinya telah memastikan partikel tersebut sudah tiba di Ibu Kota.
"Saya tidak pernah menyatakan asap karhutla sudah sampai Jakarta, saya malah minta cek ini. Jika benar alat kualitas udara di Jakarta mendeteksi PM2.5 dari asap karhutla, maka tulisan saya (di atas) bisa menjadi dasar sains mengapa asap karhutla bisa sampai Jakarta. Saya sendiri belum tahu apakah asap itu sudah sampai Jakarta apa belum," kata Daryono.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media