Nasional . 21/10/2026, 22:22 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Tawaran bantuan dari sejumlah negara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi mengatakan, pemerintah sedang menginventarisasi peralatan dan bantuan yang diperlukan agar dukungan dari negara lain bisa digunakan secara efektif dan tepat sasaran.
Kristomei menyampaikan hal itu seusai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026 malam. Ia menyebut beberapa negara, termasuk Singapura dan Malaysia, telah menjalin komunikasi mengenai kemungkinan memberikan bantuan untuk pemadaman karhutla.
"Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi kebutuhan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alat itu tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran," kata Kristomei.
Kristomei menjelaskan, Singapura telah mengirimkan surat yang menawarkan bantuan berupa masker, air minum, serta penggunaan pesawat Hercules C-130. Namun, Indonesia saat ini belum membutuhkan pesawat tersebut karena sudah memilikinya.
"Tapi kalau kita punya, kenapa harus kita minta? Contoh kalau pesawat Hercules, negara lain menawarkan pesawat C-130, lah kita juga ada, tidak efektif kita gunakan. Kenapa harus kita pinjam," ujar Kristomei menambahkan.
Menurut Kristomei, pendataan kebutuhan bantuan akan diselesaikan secepat mungkin. Proses tersebut dilakukan untuk melengkapi upaya pemadaman karhutla yang berlangsung di sejumlah lokasi.
Selain menginventarisasi bantuan dari negara lain, pemerintah juga mengupayakan pemadaman karhutla secepat mungkin melalui pemanfaatan sejumlah inovasi. Teknologi yang digunakan antara lain dry ice dan cairan khusus untuk membantu penanganan kebakaran.
Dry ice dimanfaatkan dalam operasi modifikasi cuaca (OMC), terutama untuk mengurai asap akibat karhutla. Sementara itu, cairan Realiza Anti Chamas dari Brasil telah menjalani uji coba di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan.
Bahan tersebut berbentuk serbuk yang dilarutkan ke dalam air, kemudian disemprotkan ke api untuk menghambat penyebaran kebakaran.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media