Politik

Bima Arya Ajak Anak Muda Tak Berhenti Bersuara, Wujudkan Indonesia Emas 2045

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak generasi muda untuk terus menyuarakan gagasan, berpikir kritis, dan mengambil peran aktif dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Bima Arya Ajak Anak Muda Tak Berhenti Bersuara, Wujudkan Indonesia Emas 2045
Wamendagri Bima Arya soroti rentetan OTT KPK terhadap kepala daerah sebagai bukti lemahnya efek jera, dorong pembenahan sistem dari hulu ke hilir segera.Foto:IST

fin.co.id - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak generasi muda untuk terus menyuarakan gagasan, berpikir kritis, dan mengambil peran aktif dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Menurut Bima, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah semata. Diperlukan kontribusi dan kolaborasi berbagai elemen bangsa, termasuk aktivis, anak muda, serta para pemikir.

“Kalau kata Mbak Sri Mulyani, 'Jangan pernah lelah ... mencintai Indonesia'. Saya titip kepada teman-teman semua di sini, jangan pernah berhenti melontarkan gagasan dan bersuara,” kata Bima dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026

Pesan tersebut disampaikan Bima saat menjadi penanggap dalam acara Pasar Gagasan Edisi Khusus Sumpah Pemuda di Jakarta, Rabu. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya membangun orkestrasi bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang gemilang.

Bima kemudian membagikan pengalamannya mengikuti program Indonesian Future Leaders di Nanyang Technological University, Singapura, sekitar 18 tahun lalu.

Dalam program tersebut, ia bersama 17 peserta lainnya diajak membayangkan kondisi Indonesia 20 tahun mendatang. Mereka juga diminta merumuskan langkah untuk mencapai kondisi yang diharapkan sekaligus memahami peran masing-masing dalam proses tersebut.

Pengalaman itu, menurut Bima, mengajarkan bahwa membayangkan masa depan tidak cukup hanya dengan merumuskan kondisi ideal. Diperlukan pula strategi yang jelas, pembagian peran, dan kerja sama agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan.

Ia mengaitkan pemikiran tersebut dengan pengalamannya saat mengunjungi Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat. Kedua kunjungan itu memberinya gambaran mengenai perbedaan latar belakang dan cita-cita anak-anak Indonesia.

Di Sekolah Garuda, Bima bertemu dengan para siswa yang mampu menjelaskan cita-cita mereka secara terarah. Di antaranya, keinginan menjadi peneliti di London dan ahli keanekaragaman hayati.

Sementara itu, saat mengunjungi Sekolah Rakyat, ia bertemu dengan anak-anak yang sebelumnya telah putus sekolah selama lima tahun. Ketika ditanya tentang cita-cita, salah seorang siswa menyatakan ingin membanggakan orang tuanya yang selama ini mengalami kesulitan.

“Bagi saya itu luar biasa. Jadi mari kita lihat potret secara utuh. Ketika kritis bersuara itu penting, tetapi ada hal-hal yang saya kira kita perlu lihat bahwa itu bagian dari hal yang baik menuju masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Bima menilai, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya melihat kondisi masyarakat secara menyeluruh dalam membicarakan masa depan Indonesia. Menurutnya, sikap kritis dan keberanian menyampaikan pendapat tetap diperlukan, sembari memahami beragam upaya yang dilakukan untuk mendorong perubahan.

Ia kembali menegaskan bahwa mewujudkan Indonesia Emas 2045 merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, generasi muda, aktivis, dan berbagai kelompok masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Bima berharap ruang diskusi seperti Pasar Gagasan dapat terus menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan pemikiran kritis, bertukar perspektif, serta merumuskan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.

Berita Terkait