Internasional

Pemilu Israel: Netanyahu Unggul, tetapi Kehilangan Mayoritas Parlemen

Hasil tersebut belum cukup bagi kedua kubu untuk membentuk pemerintahan secara mandiri. Untuk menguasai parlemen yang memiliki 120 kursi, diperlukan dukungan minimal 61 anggota parlemen.

Pemilu Israel: Netanyahu Unggul, tetapi Kehilangan Mayoritas Parlemen
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. (reuters)

fin.co.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum bisa memastikan kelanjutan kekuasaannya meski unggul dalam penghitungan suara pemilihan umum. Kehilangan mayoritas di parlemen membuat peluangnya untuk kembali memimpin pemerintahan bergantung pada negosiasi politik dan kemampuannya merangkul partai-partai lain.

Dikutip dari Reuters, hingga Rabu, 86 persen suara telah dihitung. Tiga lembaga penyiaran utama Israel memperkirakan blok pendukung Netanyahu, yang terdiri dari partai sayap kanan, ekstrem kanan, dan ultra-Ortodoks, memperoleh 53 kursi. Sementara itu, blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot diprediksi meraih 48 kursi.

Hasil tersebut belum cukup bagi kedua kubu untuk membentuk pemerintahan secara mandiri. Untuk menguasai parlemen yang memiliki 120 kursi, diperlukan dukungan minimal 61 anggota parlemen.

Meski kehilangan mayoritas parlemen, Netanyahu masih memiliki peluang untuk mempertahankan jabatannya. Ia akan tetap menjalankan tugas sebagai perdana menteri sementara hingga Presiden Israel menentukan siapa yang diberi mandat untuk membentuk pemerintahan baru.

Di sisi lain, kubu oposisi juga menghadapi kesulitan untuk mengambil alih kekuasaan. Mereka kemungkinan membutuhkan dukungan langsung maupun tidak langsung dari partai-partai Arab Israel, sebuah pilihan yang berpotensi menyulitkan kerja sama dengan tokoh sayap kanan seperti Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman.

Partisipasi pemilih Arab Israel menjadi salah satu sorotan dalam pemilihan kali ini. Tingkat keikutsertaan mereka mencapai rekor tertinggi, sehingga partai-partai Arab berpotensi memegang peranan penting dalam menentukan arah pembentukan pemerintahan.

Warga Arab Israel, yang memiliki latar belakang Palestina dan mencakup sekitar 21 persen populasi negara tersebut, kini berpeluang menjadi penentu keseimbangan kekuatan politik.

“Warga Arab belum pernah berada dalam posisi yang memiliki kekuatan sebesar ini,” ujar Dennis Ross, mantan negosiator perdamaian Amerika Serikat untuk Timur Tengah.

Situasi politik pascapemilu menyisakan dua kemungkinan utama, yakni pembentukan pemerintahan persatuan yang lebih luas atau penyelenggaraan pemilihan umum kembali.

Bushinsky menilai pemerintahan persatuan menjadi pilihan yang paling realistis. Skenario ini dapat semakin terbuka apabila Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong Netanyahu untuk merangkul kubu lawan dan menyingkirkan dua menteri dari kelompok ekstrem kanan, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Sebagai sekutu terpenting Israel, Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik negara tersebut. Menurut Bushinsky, dukungan terbuka Trump terhadap Netanyahu dapat digunakan sebagai daya tawar untuk mendorong terbentuknya koalisi yang lebih luas.

Jika upaya tersebut gagal, Israel berpotensi kembali menghadapi kebuntuan politik dan harus kembali menggelar pemilihan umum. Namun, sejumlah analis menilai pemilu ulang tidak serta-merta akan mengubah peta kekuatan dan justru bisa memperkuat posisi Netanyahu.

Persaingan politik Israel berlangsung di tengah situasi keamanan yang masih memanas. Sejak serangan 7 Oktober, Israel terlibat dalam perang melawan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon, serta melancarkan serangan gabungan bersama Amerika Serikat terhadap Iran.

Dalam pidato setelah pemilu di hadapan para pendukungnya, Netanyahu menyerukan pembentukan “pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat”. Ia juga menyebut pencapaian militer Israel sebagai peluang bersejarah untuk menghilangkan ancaman Iran.

“Israel menghadapi peluang bersejarah yang unik, bersama mitra kita Presiden Trump, untuk menyingkirkan ancaman eksistensial dari Iran untuk selamanya. Namun, agenda tersembunyi tidak boleh mengalihkan perhatian kita dari misi suci ini,” ujarnya.

Berita Terkait