Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 401 Ribu Kasus, PKS: Anak-anak Turut Jadi Korban!
PKS meminta pemerintah mempercepat penanganan karhutla setelah kasus ISPA di tujuh provinsi mencapai 401.586, dengan balita paling terdampak.
fin.co.id - Anak-anak dan balita menjadi kelompok yang paling terdampak pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tujuh provinsi, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat bencana tersebut telah mencapai 401.586 kasus.
Kondisi itu mendorong Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti Siroj, meminta pemerintah mempercepat penanganan karhutla sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
“Yang perlu kita garis bawahi, anak-anak tidak pernah punya pilihan untuk menghindari udara yang tercemar. Mereka menjadi pihak yang ikut menanggung dampak dari kerusakan lingkungan yang disebabkan orang lain,” ujar Eko di Jakarta, Jumat, 6 November 2026.
Eko menilai dampak karhutla tidak hanya terlihat dari kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi. Bencana tersebut juga mengancam kesehatan anak, mengganggu ketenangan keluarga, serta mempertaruhkan keberlangsungan aktivitas pendidikan.
Baca Juga
Menurutnya, keluarga, terutama para ibu, kerap menjadi pihak pertama yang menghadapi dampak kesehatan akibat asap. Orang tua harus merawat anak yang sakit, mencari fasilitas kesehatan, sekaligus menjaga anggota keluarga lainnya agar tidak ikut terdampak.
“Jangan sampai beban penanganan dampak karhutla akhirnya lebih banyak ditanggung keluarga. Masyarakat membutuhkan perlindungan nyata, bukan sekadar imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah,” katanya.
PKS Minta Layanan Kesehatan Menjangkau Kelompok Rentan
Selain meminta pemerintah memperkuat pencegahan kebakaran hutan, Eko juga mendorong percepatan penanganan di wilayah terdampak. Ia menekankan pentingnya memastikan layanan kesehatan menjangkau anak-anak dan kelompok rentan.
Politisi perempuan PKS tersebut menilai keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari upaya memadamkan api. Pemerintah juga perlu melihat sejauh mana kebijakan yang dijalankan mampu melindungi masyarakat dari paparan asap.
Eko mengingatkan agar persoalan kesehatan akibat karhutla tidak terus berulang setiap musim kebakaran. Menurutnya, lingkungan yang sehat merupakan hak anak yang harus menjadi perhatian dalam kebijakan penanganan lingkungan.
Baca Juga
“Anak-anak berhak tumbuh di lingkungan yang sehat. Jangan sampai setiap musim karhutla, keluarga kembali dihadapkan pada ancaman yang sama. Perlindungan kesehatan masyarakat harus menjadi bagian utama dari kebijakan penanganan lingkungan,” pungkas doktor Ilmu Keluarga ini.