Anjlok, Kinerja Telkomsel Terus Alami Penyusutan 3 Tahun Berturut-turut

news.fin.co.id - 19/04/2025, 13:49 WIB

Anjlok, Kinerja Telkomsel Terus Alami Penyusutan 3 Tahun Berturut-turut

Telkomsel.

fin.co.id - Kinerja operator seluler terbesar di Indonesia, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) terus mengalami penyusutan kinerja yang signifikan dalam kurun wakti tiga tahun berturut-turut. Penyusutan itu tampak jelas dari turunnya pendapatan, menipisnya margin keuntungan, dan kurangnya jumlah pelanggan aktif.

Berdasarkan data yang dirilis resmi oleh Telkomsel, Jumat 18 April 2025, pendapatan Telkomsel yang sempat mencapai Rp10,7 triliun di tahun 2022, anjlok menjadi hanya Rp8,4 triliun pada akhir 2024. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan serius bagi industri telekomunikasi nasional, khususnya bagi dominasi Telkomsel yang selama ini sulit digoyahkan.

Salah satu penyebab paling mencolok anjloknya pangsa pasar Telkomsel yakni 2021, Telkomsel yang tadinya menguasai 56,2% market share layanan seluler kini hanya 48,9% pada 2023. Artinya, Telkomsel kehilangan sekitar 7,3% pangsa pasar dalam kurun waktu tiga tahun.

Kondisi ini diduga karena kurangnya inovasi dalam menghadirkan perubahan perilaku konsumen. Mengingat masyarakat Indonesia semakin bergeser ke layanan data, namun strategi monetisasi data Telkomsel belum optimal.

Sementara itu, pesaing seperti Indosat Ooredoo Hutchison dan XL Axiata justru terus memperkuat posisi mereka melalui strategi harga yang lebih agresif dan kolaborasi layanan digital yang inovatif.

Dalam era digital yang semakin mengandalkan layanan data, strategi monetisasi data Telkomsel dinilai belum optimal. Penurunan kinerja ini juga bisa disebabkan oleh biaya operasional khususnya untuk ekspansi jaringan 4G dan uji coba 5G yang belum memberikan hasil sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.

Walaupun masyarakat Indonesia semakin bergeser dari layanan suara dan SMS ke data, Telkomsel belum bisa memaksimalkan peluang ini secara efektif. Ini berdampak langsung pada stagnasi pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU), yang sejak 2020 hanya berada di kisaran Rp44.000 hingga Rp48.000. Di akhir 2024, ARPU bahkan kembali turun ke Rp44.000 angka yang sama seperti lima tahun lalu.

Selain itu, diversifikasi ke bisnis digital yang coba dilakukan Telkomsel belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam menambah sumber pendapatan baru. Pendapatan dari layanan legacy dan broadband juga terus menurun, dari Rp10,407 triliun pada 2021 menjadi Rp8,447 triliun di 2024.

Pertumbuhan negatif di sektor broadband mencapai -11,7% selama tiga tahun terakhir, yang menandakan semakin beratnya tantangan yang dihadapi. Kombinasi antara kehilangan pangsa pasar, stagnasi ARPU, hingga meningkatnya beban operasional menjadi tantangan besar yang harus segera direspons oleh Telkomsel.

Tanpa langkah strategis yang cepat dan tepat, posisi dominan Telkomsel di pasar telekomunikasi nasional bisa terus tergerus oleh pesaing yang lebih adaptif dan inovatif. Kondisi ini menjadi momen penting bagi Telkomsel untuk melakukan transformasi menyeluruh, baik dari sisi teknologi, produk, hingga pendekatan terhadap konsumen digital masa kini.

(Adm)

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID