Dengan kata lain, sambungnya, masalahnya terletak bukan pada agama itu sendiri, melainkan pada cara agama dihidupi. Selama ini agama justru lebih menjadi simbol identitas politik daripada sumber etika sosial.
“Agama kuat sebagai simbol, tapi lemah sebagai etika,” ujar Denny, sambil mengajak peserta untuk menemukan kembali spiritualitas yang intim dan esoteris.
Pada program Esoterika Fellowship ini sendiri diperkenalkan tiga buku utama sebagai panduan kurikulum spiritualitas baru yang mengeksplorasi pemikiran Denny JA soal agama dan spiritualitas di era AI.
Buku pertama berjudul "Agama sebagai Warisan Kultural Milik Bersama" yang menyoroti agama sebagai milik kolektif umat manusia. Buku kedua berjudul " Sosiologi Agama di Era Artificial Intelligence" yang memuat menawarkan tujuh prinsip tentang bagaimana agama harus bersikap di zaman digital dan buku ketiga berjudul "10 Prinsip Spiritual yang Universal" yang menyatukan esensi ajaran agama-agama dalam satu panduan reflektif.
Melalui fellowship ini, kampus-kampus diharapkan menjadi ladang subur bagi penyemaian pesan spiritual universal, sebuah spiritualitas yang inklusif, reflektif, dan membebaskan. Pesan tersebut ditegaskan Denny JA dalam pidatonya.
“AI telah datang. Mari kita gunakan untuk menyebarkan cahaya spiritualitas lintas iman, dimulai dari kampus, agar agama tak sekadar menjadi identitas, melainkan energi batin yang menghidupkan masa depan," jelasnya.
Esoterika Fellowship Masuk Kampus merupakan bagian dari gerakan Forum Esoterika. Program ini dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rahman. Spirit dari program ini adalah membawa agama kembali ke jantung kesadaran manusia, melampaui doktrin, menuju makna.
Di tengah dunia yang semakin terhubung namun terpecah, spiritualitas universal adalah jalan untuk menyatukan kembali manusia dengan etika publik, dan kesadaran ekologis.
"Karena di ujung zaman algoritma, yang akan menyelamatkan kita bukan mesin yang paling cerdas, tetapi hati yang paling jernih, iman yang paling lembut. Dan nurani yang tetap memilih cinta ketika dunia menawarkan kebencian," tutup Denny JA.