Nasional . 23/04/2025, 21:39 WIB
Penulis : Khanif Lutfi | Editor : Khanif Lutfi
Denny menyatakan bahwa salah satu indikator yang dinilai tinggi dalam ranking global adalah kemampuan institusi menghasilkan kurikulum baru yang mencerminkan perkembangan zaman.
Dalam semangat itu, Esoterika Forum memperkenalkan kurikulum: “Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Bersama di Era AI”—sebuah inovasi yang merekam denyut zaman dan memenuhi indikator tersebut.
TEKNOLOGI DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Denny menyandingkan upaya ini dengan semangat Teologi Pembebasan dari Amerika Latin. Ini gerakan teologis abad ke-20 yang tidak hanya mengakar di ruang kuliah, tetapi juga mekar di tengah rakyat yang tertindas.
Teologi itu tak sekadar menjelaskan Tuhan, tetapi juga membela mereka yang dilukai sejarah.
“Teologi Pembebasan lahir dari penderitaan. Dan spiritualitas era AI juga lahir dari kesadaran bahwa dunia modern memerlukan tafsir baru atas makna, iman, dan kemanusiaan. Kita ingin membawa tafsir spiritual ini ke dua ruang: kelas dan masyarakat,” ujar Denny.
LUKA SOSIAL, PELUANG SPIRITUAL
Spiritualitas, bagi Denny, tak boleh berhenti di langit ide. Ia harus menjejak tanah konflik, luka, dan realitas sosial.
Ia mengingatkan data riset LSI (1998–2001) yang mencatat lima tragedi besar akibat politik identitas dan agama:
•Konflik Islam–Kristen di Ambon (1999–2001)
•Kerusuhan etnik dan agama di Jakarta (Mei 1998)
•Konflik Dayak–Madura di Kalimantan Tengah (2001)
•Ketegangan etnik di Lampung antara pendatang Bali dan warga lokal (2001–2002)
•Konflik antar paham Islam di Mataram, NTB (2000an)
“Luka-luka itu belum benar-benar sembuh,” ujarnya lirih. “Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya.”
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media