Perang Iran dan Israel Guncang Ekonomi Global, Ini Dampaknya

news.fin.co.id - 28/06/2025, 21:59 WIB

Perang Iran dan Israel Guncang Ekonomi Global, Ini Dampaknya

Pelabuhan di Iran meledak

fin.co.id - Ketegangan antara Iran dan Israel membuat wilayah Timur Tengah kian memanas, eskalasi militer kini juga diprediksi akan menjadi semakin masif. Alhasil, sejumlah Ekonom dan Pakar juga memperkirakan bahwa dampak dari konflik ini ke perekonomian global akan semakin melumpuhkan rantai pasok global.

Salah satunya datang dari Fyodor  Lukyanov, pemimpin redaksi dalam Global Affairs. Dia mengatakan, Israel dan lobi neokon di AS, hal tersebut bisa mendesak menggulingkan rezim Iran yang lemah akibat serangan, dan pemerintahan Trump mungkin terperosok dalam perang terbuka. Hal serupa juga turut filsuf asal Rusia, Alexander Dugin. Menurutnya, skenario terburuk yang akan terjadi saat ini adalah terjadinya Perang Dunia III.

“Jika Iran jatuh, Rusia selanjutnya. Artinya Barat tak segan menargetkan kekuatan nuklir lainnya,” kata Alexander dikutip pada Sabtu 28 Juni 2025.

Sementara itu, Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengatakan, ketegangan geopolitik seperti ini selalu menaikkan harga minyak, meningkatkan inflasi, dan meredupkan investasi global.

Advertisement

Sebagai ilustrasi, penelitian terbaru memperkirakan kenaikan harga minyak USD 10 per barel (berkelanjutan selama 2 tahun) bisa menambah inflasi hingga ≈0,7 poin persentase diseluruh dunia.

“Dampak tekanan pada rantai pasok akan bertambah buruk. Serangan Houthi di Laut Merah tahun 2023 misalnya memaksa kapal dagang berputar melewati Tanjung Harapan, dan indeks biaya angkut kontainer melonjak 260 persen dalam waktu singkat,” kata Achmad ketika dihubungi Disway Group.

Dia mengatakan, dalam perang luas, gangguan pengiriman dan penutupan jalur energi utama akan mengerek biaya logistik dan memperpanjang rantai produksi. Akibatnya, konsumen di hampir semua negara harus mengurangi belanja, sementara perusahaan menunda investasi. Alhasil, kepercayaan pelaku usaha jatuh, dan banyak proyek ekonomi skala besar akan ditunda atau dibatalkan.

“Analisis NiGEM menunjukkan kenaikan 10 persen biaya angkut laut dapat menambah inflasi konsumen sekitar 0,5 poin persentase. Secara keseluruhan, kombinasi krisis energi, disrupsi perdagangan, dan perang yang meluas bisa menyeret ekonomi dunia ke jurang resesi global,” kata Achmad.

Di sisi lain, sejumlah studi bahkan menyoroti bahwa dalam jangka panjang perang global akan memperbesar anggaran militer dan krisis pengungsi, menggerus infrastruktur serta investasi produktif. Banyak pemerintah melewati batas defisit mereka untuk membiayai perang, dan ekonomi dunia yang sudah lesu bisa terjebak dalam resesi berkepanjangan.

Jika pemotongan produksi OPEC terjadi lagi, harga bisa melambung seperti krisis minyak 1973, di mana inflasi melonjak dan resesi menyusul.

(Bianca Khairunnisa)

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID