Denny JA Merekam Sejarah dalam Tujuh Buku Puisi Esai
Dari Kekerasan Seksual Era Pendudukan Jepang ke Kengerian Perang Dunia, dari Kartini ke Mao Zedong
3.Ia menghidupkan narasi yang dilupakan.
Di tengah gemuruh suara mayoritas, puisi esai memberi tempat bagi suara-suara yang nyaris punah: bisikan Lastri, tangis Lina, dan rindu yang tertinggal di meja makan eksil.
Tujuh Buku Puisi Esai Denny JA dalam Heptalogi
1.Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kalah oleh diskriminasi.
Baca Juga
2.Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang mereka yang hilang paksa.
3.Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-reformasi.
4.Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak merdeka saat proklamasi.
5.Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon.
6.Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.
Baca Juga
7.Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global yang membentuk nurani dunia.
“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi,
adalah keberanian untuk terus mendengarkan
yang tak lagi punya suara.” Demikian dikatakan Denny JA. *