fin.co.id — Indonesia lagi berpacu dengan waktu soal urusan air bersih. Urbanisasi makin gila-gilaan, iklim makin tak menentu, sementara kebutuhan air rumah tangga dan industri terus melonjak.
Melihat tantangan ini, Water Indonesia 2025 bakal digelar pada 10-13 September 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ajang ini digadang-gadang bukan sekadar pameran teknologi air, tapi juga ruang temu berbagai pihak — pemerintah, industri, akademisi, hingga komunitas — untuk cari solusi bareng.
“Kebutuhan air makin tinggi, sementara tantangannya juga makin kompleks. Kita nggak bisa kerja sendiri-sendiri. Kolaborasi multisektor jadi kunci,” ujar Lia Indriasari, Country Manager Pamerindo Indonesia, Rabu (2/7/2025).
Pameran ini bakal memamerkan teknologi terbaru untuk pengelolaan air, mulai dari daur ulang air limbah, sistem filtrasi canggih, sampai solusi circular water economy yang kini mulai ramai dibicarakan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan, masih ada 7,36% rumah tangga Indonesia yang belum menikmati air minum layak. Ketimpangan juga terasa: di kota angkanya sudah 96,56%, sedangkan di desa baru 87,06%. Papua Pegunungan bahkan baru menyentuh 30,64%.
Lebih mengkhawatirkan lagi, proyeksi 2050 memprediksi setengah populasi Indonesia bisa kekurangan air bersih, dengan 17% di antaranya masuk kategori kekurangan absolut.
Di sisi lain, sektor industri, terutama makanan-minuman, juga haus air. Sektor ini menyumbang lebih dari 38% PDB manufaktur nasional, dengan konsumsi air mencapai 6.000–8.000 liter per ton produk. Artinya, kalau pasokan air terganggu, ekonomi bisa kena imbas besar.
Pemerintah sudah menyiapkan target ambisius di RPJMN 2025–2029, termasuk peningkatan kapasitas tampungan air per kapita dan perluasan akses air siap minum di perkotaan. Skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) jadi salah satu harapan utama untuk mengejar kebutuhan investasi infrastruktur air yang fantastis, yakni Rp26.380 triliun hingga 2030.
“Water Indonesia 2025 bukan cuma ajang pameran. Ini momentum buat kita semua duduk bareng, bawa inovasi, dan cari jalan keluar agar krisis air tak jadi bom waktu,” tegas Lia.
Water Indonesia 2025 pun makin memperkokoh posisi Indonesia di peta industri air Asia Tenggara lewat ASEAN Water Series. (*)