Saat ini, BRICS bekerja dengan sistem rotasi kepresidenan dan berfokus pada tiga pilar utama: politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta interaksi masyarakat sipil.
Seperti dikutip dari Bloomberg hari ini, BRICS juga telah membentuk kategori negara mitra pada KTT Kazan 2024. Negara-negara yang tercatat sebagai mitra meliputi Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan. Mereka diundang untuk memperluas jaringan kerja sama ekonomi dan diplomasi BRICS di berbagai belahan dunia.
Posisi Indonesia di BRICS
Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS membuka babak baru diplomasi ekonomi dan politik Indonesia. Sebagai negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia berpotensi memainkan peran signifikan dalam memperkuat solidaritas negara-negara berkembang.
Menurut laporan Jakarta Post hari ini, keikutsertaan Indonesia di KTT BRICS diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, dan mendorong reformasi tata ekonomi global yang lebih adil.
KTT BRICS yang dihadiri Presiden Prabowo menjadi langkah penting, sekaligus ajang pembuktian bagaimana Indonesia memanfaatkan forum global ini demi kepentingan nasional dan kawasan. (*)