fin.co.id - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan sebanyak 27.932 pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diduga menerima bantuan sosial (bansos). Temuan ini menjadi sorotan karena secara ekonomi dinilai seharusnya tidak termasuk dalam penerima bantuan.
Tak hanya pegawai BUMN, data yang dihimpun PPATK juga mengungkap, terdapat 7.479 dokter serta lebih dari 6.000 orang dengan jabatan eksekutif atau manajerial yang tercatat sebagai penerima bansos.
“Dari profil yang kami temukan di satu bank saja, terdapat 27.932 penerima bansos yang berstatus pegawai BUMN, 7.479 orang berstatus dokter, dan lebih dari 6.000 orang bekerja sebagai eksekutif atau manajerial,” kata Ketua PPATK Ivan Yustiavandana, Jumat, 8 Agustus 2025.
Ivan menekankan pentingnya tindak lanjut dari Kementerian Sosial (Kemensos) guna melakukan verifikasi secara langsung terhadap data tersebut di lapangan.
"Apakah yang bersangkutan memang masih layak menerima bansos atau tidak, ini perlu dicek kembali,” ujarnya.
Lebih lanjut, kata dia, PPATK juga mengungkap adanya sekitar 60 orang penerima bansos yang memiliki saldo rekening melebihi Rp50 juta.
"Kami menemukan ada orang yang memiliki rekening senilai lebih dari Rp50 juta tetapi masih menerima bansos," ungkap Ivan.
Selain meninjau status pekerjaan dan kondisi finansial, sambungnya, PPATK turut melakukan pemeriksaan terhadap Nomor Induk Kependudukan (NIK) para penerima. Ditemukan bahwa lebih dari 78.000 penerima bansos sepanjang semester pertama tahun 2025 masih aktif terlibat dalam aktivitas perjudian daring.
"Apakah NIK yang kami terima masih bermsin judol hingga saat ini? Kami menemukan bahwa lebih dari 78.000 penerima bansos pada semester pertama tahun 2025 masih bermain judol," jelas Ivan.
Dari total sekitar 10 juta data penerima bansos yang diperiksa, sebanyak 1,7 juta tidak dapat diidentifikasi sebagai penerima bantuan. Ivan menyebutkan bahwa hanya 8.389.624 orang yang benar-benar tercatat sebagai penerima bansos.
"Dari 10 juta jumlah rekening yang dimohonkan kepada kami, 1,7 jutanya tidak teridentifikasi menerima bansos. Jadi hanya 8.389.624 yang diketahui menerima bansos," tuturnya.
(Anisha Aprilia)