fin.co.id — Program digitalisasi pendidikan yang sempat digadang-gadang sebagai terobosan besar kini justru terseret kasus hukum. Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali memeriksa sejumlah saksi penting terkait dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek. Yang menarik perhatian, jajaran petinggi PT Acer Indonesia ikut dipanggil.
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, menegaskan pemeriksaan ini dilakukan untuk memperkuat pembuktian perkara. "Pemeriksaan saksi ini krusial untuk mendalami peran pihak-pihak swasta maupun internal kementerian. Semua dilakukan agar penyidikan berjalan transparan dan tuntas," ujar Febrie, Rabu, 20 Agustus 2025.
Ada lima saksi yang diperiksa. Mereka adalah FW, Direktur PT Aneka Sakti Bakti (ASABA), distributor laptop untuk program digitalisasi pendidikan tahun 2021–2022. Lalu AW, Plt. Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek tahun 2022. Dari pihak swasta, LMNG selaku Presiden Direktur PT Acer Indonesia dan RG sebagai Head of Commercial Product PT Acer Indonesia turut hadir. Terakhir, TS, mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan tahun 2020.
Kehadiran petinggi Acer menjadi sorotan lantaran perusahaan teknologi asal Taiwan itu memiliki posisi penting dalam program digitalisasi pendidikan. Acer dikenal sebagai salah satu penyedia utama laptop Chromebook yang dibagikan ke sekolah-sekolah. Karena itu, pemeriksaan ini dianggap publik sebagai langkah signifikan.
Meski demikian, Febrie menegaskan bahwa status mereka masih sebatas saksi. "Kami belum berbicara soal tersangka baru. Fokus saat ini adalah mengurai peran masing-masing pihak dan memastikan alur pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara," jelasnya.
Kasus ini menyeret nama MUL sebagai tersangka utama. Ia diduga terlibat dalam tata kelola proyek digitalisasi pendidikan yang berlangsung pada periode 2019–2022. Proyek yang semula ditujukan untuk mempercepat akses teknologi bagi pelajar ternyata justru menyisakan dugaan praktik curang.
Publik kini menanti, apakah pemeriksaan bos PT Acer Indonesia dan distributor ASABA akan membuka jalan bagi tersangka baru dalam kasus ini. Bukan tidak mungkin, gelombang berikutnya bakal menyeret aktor-aktor besar lain di balik proyek digitalisasi yang bernilai triliunan rupiah. (*)