Esco terakhir kali berkomunikasi dengan adiknya pada Senin sebelum dinyatakan hilang kontak. Ia sempat menyebut sakit, tetapi keesokan harinya tetap masuk dinas. Setelah Selasa malam, tidak ada kabar lagi dari korban hingga jasadnya ditemukan pada Minggu 24 Agustus 2025 pagi. Keluarga merasa jeda waktu ini terlalu panjang dan tidak wajar.
Keluarga menyebut bahwa sejumlah orang di sekitar korban, yang mungkin memiliki informasi, menjadi diam mendadak. Ada kesan bahwa beberapa saksi potensial atau warga yang seharusnya melihat atau mendengar sesuatu memilih tidak bicara. Keadaan ini menambah rasa curiga bahwa diduga ada yang sengaja menutup-nutupi.
Dalam olah TKP kedua, ditemukan bercak darah di beberapa titik di rumah Brigadir Esco. Penemuan ini memunculkan dugaan bahwa peristiwa terjadi bukan di luar rumah atau di kebun saja, melainkan mungkin sudah dimulai di dalam kamar korban.
Laporan hasil otopsi menyebutkan bahwa tubuh Esco memperlihatkan luka benda tumpul, khususnya di bagian leher dan bagian tubuh lainnya, yang menurut keluarga tidak mungkin jika diklaim sebagai bunuh diri.
Saat ditemukan, kondisi jasad sudah dalam tahap lanjut pembusukan, wajah rusak, dan lehernya terikat tali. Kondisi ini dianggap keluarga sangat mengerikan dan tidak cocok dengan narasi sederhana bunuh diri.
Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum dalam kasus kematian Brigadir Esco ini masih berjalan. Sejak awal ditemukan, polisi terus menerus mengumpulkan barang bukti dan sekaligus pemeriksaan saksi termasuk istri korban.
Sudah ada lima alat bukti yang berhasil dikumpulkan, tetapi belum dianggap cukup kuat untuk menetapkan tersangka. Untuk mengejar petunjuk, polisi sudah memeriksa sekitar 50 orang saksi, termasuk keluarga, kerabat, dan rekan kerja korban. Alat bukti seperti telepon seluler korban, hasil autopsi. Bercak darah di beberapa titik di rumah Esco juga tengah diperiksa mendalam.
"Total saksi yang sudah diperiksa sebanyak 50 orang," kata Kepala Subdirektorat III Bidang Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Reserse Kriminal Umum Polda NTB AKBP Catur Erwin Setiawan yang ditemui di Polda NTB, Mataram, Kamis.
"Kebutuhan keterangan istrinya masih. Yang bersangkutan juga sudah beberapa kali kami periksa. Saat ini yang bersangkutan masih bertugas di Polres Lombok Barat," ujarnya.
Pihak kepolisian hingga saat ini masih melakukan penyelidikan secara hati-hati dengan terus mencari bukti tambahan agar proses penetapan tersangka bisa benar-benar kuat di mata hukum.
Polisi juga meminta pihak keluarga dan masyarakat bersabar serta mempercayakan penanganan kasus ini kepada kepolisian.
Meskipun penyidik sudah mengantongi bukti awal dan telah memeriksa banyak saksi, keluarga Brigadir Esco merasa bahwa banyak hal yang belum dijelaskan secara memuaskan.
Keluarga dan elemen masyarakat seperti Laskar Sasak menuntut agar kepolisian segera menetapkan tersangka, menghukum dengan setimpal, dan memastikan proses hukum berjalan adil dan transparan. Mereka menolak jika kasus ini terus dibiarkan tanpa kejelasan.
Ketua Laskar Sasak Lombok Tengah, Lalu Toni, menyampaikan dukungan moral dan keprihatinan mendalam atas meninggalnya Brigadir Esco. Ia menyatakan bahwa sebagai warga Lombok Tengah, dirinya ikut berbela sungkawa dan merasa wajib ikut mengawal kasus tersebut hingga terang.
“Saya selaku masyarakat Lombok Tengah ikut berbela sungkawa atas meninggalnya almarhum Brigadir Esco. Suatu kewajiban bagi saya selaku warga Lombok Tengah dan atas nama Ketua Laskar Sasak Lombok Tengah, berharap kepada pihak kepolisian untuk segera dan secepatnya menangkap pelaku atas meninggalnya Brigadir Esco,” tegasnya.