fin.co.id – Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sebanyak 27 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama periode 13 Oktober 2025 WIB hingga 14 Oktober 2025.
Dari total kejadian tersebut, 12 di antaranya berdampak signifikan terhadap masyarakat dan menjadi fokus pemantauan intensif BNPB.
Pemantauan dilakukan secara rutin sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan nasional yang terhubung dengan jaringan Pusdalops-PB di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Berdasarkan hasil analisis, kejadian menonjol selama periode pelaporan terdiri atas tujuh kejadian baru dan lima kejadian yang diperbarui datanya.
Kejadian baru pertama adalah angin kencang yang melanda wilayah selatan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada Minggu (12/10) sore.
Wilayah yang terdampak mencakup 8 desa di 3 kecamatan. Fenomena alam yang berujung menjadi sebuah bencana itu mengakibatkan 38 kepala keluarga terdampak, satu orang luka sedang dan telah mendapatkan perawatan di RSI Cawas.
Adapun kerugian material yang ditimbulkan meliputi 38 unit rumah rusak ringan, 2 fasilitas umum, 1 gedung sekolah, 5 akses jalan tertutup 12 pohon tumbang, 6 kandang ternak rusak, 3 kendaraan ringsek dan 2 tempat usaha rusak sedang hingga berat.
Penanganan darurat telah dilakukan oleh TRC BPBD Kabupaten Klaten bersama aparat terkait. Pohon tumbang serta material ringan yang menutup akses warga telah dibersihkan, dan kondisi wilayah kini terpantau kondusif.
Masih di Kabupaten Klaten, kejadian serupa juga melanda di wilayah utara sehari setelahnya atau pada Senin (13/10) sore. Lokasi yang terdampak meliputi 10 desa di 4 kecamatan. Peristiwa ini telah berdampak pada 11 kepala keluarga dengan satu orang luka ringan serta 11 rumah rusak ringan. Penanganan telah dilakukan oleh TRC BPBD dan aparat setempat, serta kondisi lapangan dilaporkan telah tertangani dengan baik.
Di wilayah Jawa Tengah lainnya, angin kencang juga terjadi di Kabupaten Sragen pada Senin (13/10), yang berdampak pada 22 kepala keluarga atau 63 jiwa dengan kerusakan satu rumah rusak berat dan 20 rumah rusak ringan. Wilayah yang terdampak adalah Desa Tangkil di Kecamatan Sragen. Penanganan darurat telah dilakukan oleh BPBD setempat, dan situasi di lapangan kini terkendali.
Masih di Jawa Tengah, hujan deras yang mengguyur sejak Senin (13/10) dini hari telah memicu banjir di Kabupaten Cilacap. Peristiwa itu berdampak pada 79.111 jiwa, dengan 491 jiwa di antaranya harus mengungsi. Sebanyak 65.094 unit rumah terdampak akibat tingginya genangan debit air di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah sedang memproses penetapan status Siaga Darurat, dan berdasarkan laporan terkini, banjir sudah surut. Tim BPBD terus melakukan pendataan serta asesmen lanjutan untuk memastikan penanganan pascakejadian.
Di wilayah Provinsi Jawa Timur, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Jember pada Senin (13/10), dan telah menyebabkan dua warga meninggal dunia akibat tertimpa rumpun bambu. Seluruh korban telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga. Pemerintah daerah setempat mengimbau warga untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan akibat pengaruh peralihan musim.
Sementara itu, cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Blitar pada Senin (13/10), dan berdampak pada 12 kepala keluarga tanpa adanya korban jiwa. Beberapa rumah di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, mengalami kerusakan ringan, namun seluruh akses jalan telah kembali normal. Saat ini, cuaca di wilayah tersebut dilaporkan cerah dan situasi terkendali.
Dari wilayah Jawa Barat, banjir melanda Kabupaten Pangandaran pada Senin (13/10), dan berdampak pada 457 kepala keluarga atau 1.350 jiwa, dengan 457 unit rumah mengalami kerusakan ringan akibat genangan air. Adapun wilayah yang terdampak meliputi 5 desa di 2 kecamatan.
Wilayah ini berada dalam masa status Siaga Darurat Bencana Banjir Provinsi Jawa Barat yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026. Saat ini BPBD masih melaksanakan asesmen dampak dan melakukan koordinasi lintas sektor untuk penanganan lebih lanjut.
Data dan Informasi Perkembangan Penanganan Kejadian Bencana