Bukan APBN! Ini Sumber Dana Rahasia untuk Bayar Utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung

news.fin.co.id - 24/10/2025, 19:25 WIB

Bukan APBN! Ini Sumber Dana Rahasia untuk Bayar Utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali mendapat perhatian publik.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa anggaran pembayaran utang proyek KCJB tidak bersumber dari APBN.

Artinya, pembiayaan akan tetap berasal dari entitas bisnis proyek, yaitu PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), melalui pendapatan operasional Whoosh dan kontribusi para pemegang saham.

Purbaya menegaskan, pendekatan ini penting agar proyek infrastruktur besar tidak membebani fiskal negara.

Sejak resmi beroperasi pada 17 Oktober 2023, Whoosh telah melayani lebih dari 12 juta penumpang, dengan pertumbuhan penumpang yang stabil setiap bulannya.

Advertisement

Bahkan, pada Juni 2025, jumlah penumpang harian mencapai rekor tertinggi 26.770 orang dalam satu hari.

Tak hanya transportasi, keberadaan Whoosh juga menghidupkan ekosistem ekonomi di sekitar kawasan stasiun. Hingga kini, terdapat 188 tenant aktif, terdiri dari 76 UMKM dan 112 non-UMKM yang menjual berbagai produk seperti makanan, minuman, suvenir, hingga perlengkapan perjalanan.

“Ekosistem Whoosh berkembang pesat, bukan hanya untuk transportasi tapi juga ekonomi lokal. Banyak pelaku UMKM yang kini ikut menikmati manfaatnya,” tulis laporan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Struktur Kepemilikan dan Nilai Investasi KCJB

Sebagai informasi, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) adalah perusahaan patungan antara Indonesia dan China.

  • PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang 58,53% saham,

  • Sementara konsorsium China Railway International Co. Ltd. menguasai sisanya.

Proyek ini telah menelan biaya investasi hingga US$7,2 miliar, atau sekitar Rp114 triliun dengan kurs saat ini. Nilai tersebut mengalami pembengkakan sebesar US$1,2 miliar dari target awal sebesar US$6 miliar.

Dari pembengkakan tersebut, 60% (US$720 juta) ditanggung oleh konsorsium Indonesia, sedangkan 40% (US$480 juta) ditanggung oleh pihak China.

Restrukturisasi utang KCJB hingga 60 tahun diyakini akan memberikan ruang fiskal lebih luas bagi pemerintah Indonesia sekaligus menjamin keberlanjutan proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Dalam jangka panjang, proyek Whoosh diharapkan menjadi simbol modernisasi transportasi dan kolaborasi internasional antara Indonesia dan China.

Advertisement
Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID