fin.co.id - Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, menegaskan bahwa pendiri sekolah Cikal dan blended learning Sekolah Murid Merdeka (SMM), Najelaa Shihab, bukan bagian dari anggota grup yang sama dengan Nadiem Makarim.
Hal itu disampaikan Anang untuk meluruskan pernyataan kuasa hukum Nadiem, Tabrani Abby, yang sebelumnya mengklaim bahwa Najelaa berada dalam satu grup WhatsApp bersama kliennya sebagai ahli pendidikan.
"Saya konfirmasi bahwa terkait di grup itu (Mas Menteri Core Team) nggak ada (Najelaa Shihab)," jelas Anang, dikutip Rabu 29 Oktober 2025.
Ia menambahkan, pihaknya tidak mempermasalahkan pernyataan dari kubu Nadiem Makarim, sebab seluruh pembuktian dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook akan terungkap secara jelas di pengadilan.
Anang juga menegaskan bahwa jaksa penuntut umum telah mengantongi berbagai fakta hukum yang akan dibawa ke persidangan.
"Ya silahkan, itu kan versinya dia, nanti kita pasti penuntut umum yang lebih tahu yang punya kepentingan dalam pembuktian, silahkan aja penasehat hukum mau bicara apa," tutur Anang.
Lebih lanjut, Anang menyampaikan bahwa hingga kini Kejaksaan Agung belum pernah memeriksa Najelaa Shihab terkait perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek.
"Sampai saat ini belum ada pemanggilan terhadap Najeela Shihab," tukasnya.
Di lain sisi, kuasa hukum Nadiem, Tabrani Abby mengemukakan, WA grup itu awalnya bernama Edu Org. Kemudian setelah Nadiem Makarim resmi menjadi menteri, diubahlah menjadi 'Mas Menteri Core'.
Adapun, anggota yang ada di dalam grup itu adalah mereka yang ahli pada bidang bidang pendidikan dan IT. Termasuk staf khusus Nadiem saat itu: Fiona Handayani Jurist Tan, hingga Najelaa Shihab.
"Grup dibuat untuk menjadi forum diskusi dan tempat brainstorming dalam menyiapkan strategi kebijakan pendidikan," terangnya.
Abby menuturkan, percakapan yang ada di grup itu berisi ide terkait dengan visi kebijakan pendidikan, apabila nantinya Nadiem Makarim resmi ditunjuk sebagai Menteri. Dia bilang, grup itu sudah dibentuk sebelum Nadiem dilantik sebagai menteri.
Abby menambahkan, diskusi dalam grup tersebut juga membahas paradigma baru dalam asesmen pendidikan, upaya penyederhanaan beban administrasi guru, serta rencana pemanfaatan teknologi digital.
Dia juga menegaskan bahwa tidak ada pembahasan khusus mengenai pengadaan Chromebook di dalam grup tersebut.
"Konteksnya itu sebenarnya soal bagaimana menciptakan sesuatu sistem pendidikan yang didukung dengan teknologi awalnya seperti itu. Jadi tidak ada juga soal harus menggunakan Chrome atau juga untuk mengadakan Chromebook seperti itu," tukasnya.