"Tim ini harus fokus pada langkah-langkah teknis seperti bottle test blending, recirculation di tangki darat, serta penambahan additive (AO) guna menjaga stabilitas mutu bahan bakar", tegasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi teknis dan pemahaman produk bagi seluruh pekerja Pertamina, mulai dari manajemen hingga operator SPBU.
“Pekerja yang memahami karakteristik produk akan menjadi benteng terakhir dalam menjaga mutu BBM dan kepercayaan publik,” ucapnya.
Rasminto menilai, kasus BBM off-spec harus dijadikan momentum bagi Pertamina dan pemerintah untuk memperkuat tata kelola impor energi nasional.
“Masalah BBM off-spec jadi ujian bagi integritas sistem energi kita. Pertamina perlu dukungan negara untuk memastikan kedaulatan energi tetap terjaga,” katanya.
Menurutnya, negara harus turun tangan menelusuri kemungkinan adanya sabotase yang dilakukan jaringan lama impor migas yang terafiliasi kasus hukum sebelumnya.
“Tarung reputasi Pertamina sesungguhnya adalah tarung reputasi bangsa. Kita tidak boleh kalah di sektor strategis seperti energi,” pungkasnya.