Menilai Sejarah Tanpa Kacamata Bias
“Ketika kita menilai Soeharto tanpa kacamata merah muda, dunia tampak lebih kontras: terang dan gelap berdampingan sebagaimana adanya,” kata Denny JA.
“Ia bukan malaikat yang tak pernah salah, tetapi juga bukan bayangan yang tak punya jasa.”
Denny menutup refleksinya dengan kalimat yang kontemplatif:
“Sejarah bukan album potret berisi gambar terbaik. Ia adalah film panjang: cahaya dan bayangan, tawa dan tangis, salah dan betul, berkejaran di layar yang sama.”
Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa dosa, melainkan bangsa yang mampu menatap masa lalunya dengan jujur.
Lalu, ia mengakui luka, menghargai jasa, dan melangkah maju dengan kebijaksanaan sejarahnya sendiri.
Lebih dari sekadar angka survei, temuan ini mencerminkan dialog batin bangsa terhadap sosok kepemimpinan ideal.
Di tengah gejolak zaman, publik tampaknya mendamba keseimbangan antara ketegasan, keadilan, dan empati.
Dalam cermin sejarah itu, nama Soeharto hadir bukan sekadar nostalgia, tetapi perenungan atas arah Indonesia ke depan.”