Viral! Turis Asing Diusir & Dimaki di Sanur Bali Gegara Nekat Pesan Taksi Online

news.fin.co.id - 25/11/2025, 16:32 WIB

Viral! Turis Asing Diusir & Dimaki di Sanur Bali Gegara Nekat Pesan Taksi Online

Video pria di Sanur marahi turis soal transportasi online viral dan picu debat tarif ojek lokal vs online. Foto: Tangkapan Layar TikTok fiolladalimunthe09.

fin.co.id - Sebuah video yang beredar luas kembali mengguncang jagat maya, khususnya para penikmat berita seputar Bali. Rekaman itu menampilkan seorang pria lokal di kawasan Sanur, Bali, yang memarahi seorang turis asing karena menggunakan transportasi online. Video ini cepat menyebar di berbagai platform sosial dan langsung memicu perdebatan hangat di kolom komentar.

Dalam rekaman tersebut, pria lokal itu terlihat berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah turis asing. Ia kabarnya menolak keberadaan kendaraan online di area tersebut dan meminta turis itu untuk tidak menggunakannya. Situasi terlihat tegang, meski turis itu tidak membalas dengan emosi. Ia justru memilih pergi meninggalkan lokasi setelah pria itu memintanya segera keluar dari kawasan itu.

Momen singkat tersebut cukup untuk membuat publik riuh. Banyak warganet langsung menyoroti persoalan transportasi di beberapa titik wisata Bali yang kerap memicu gesekan antara pengemudi lokal dan layanan transportasi digital.

Tak butuh waktu lama hingga video itu memantik berbagai komentar pedas. Warganet ramai-ramai membahas perbedaan tarif antara transportasi konvensional dan layanan online yang dianggap jauh lebih murah dan transparan.

Advertisement

Banyak pengguna internet mengeluhkan tarif kendaraan lokal yang menurut mereka cenderung lebih mahal dibandingkan transportasi online. Mereka menilai larangan terhadap kendaraan online justru merugikan wisatawan dan berpotensi menciptakan citra buruk bagi pariwisata Bali.

Beberapa warganet bahkan mengaku pernah mengalami pengalaman serupa, terutama di kawasan wisata yang ramai turis. Ada yang menyebut tarif lokal bisa melambung beberapa kali lipat pada jam sibuk atau hari liburan. Tidak sedikit pula yang merasa dipaksa menggunakan jasa lokal dengan alasan “aturan wilayah”, meski aturan formalnya tidak selalu jelas.

Di sisi lain, sebagian warganet mencoba memahami posisi pengemudi lokal yang merasa pendapatannya tergerus oleh maraknya layanan digital. Namun sentimen utama tetap mengarah pada permintaan agar konflik serupa tidak terus terulang, terutama karena dapat merusak kenyamanan wisatawan.

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis FIN.CO.ID