Jika penghargaan utama adalah tonggak, maka penghargaan inovasi adalah kompas.
BRICS menyatakan bahwa sastra global bukan hanya tentang siapa yang terbaik tahun ini, tetapi siapa yang membuka jalan baru bagi masa depan.
Dua penghargaan tersebut membawa dua makna berbeda. Penghargaan utama diberikan kepada satu penulis yang dinilai memberikan kontribusi karya paling kuat tahun ini dan dimenangkan Salwa Bakr dari Mesir. Ini menandai “juara umum” musim perdana BRICS Award.
Sementara itu, penghargaan khusus untuk inovasi diberikan hanya kepada satu inovator yang menciptakan gebrakan genre. Penghargaan ini dimenangkan oleh Denny JA dari Indonesia.
Penghargaan ini adalah pengakuan global atas penciptaan genre puisi esai. Penghargaan ini tidak berkaitan dengan “peringkat”, melainkan penciptaan terobosan artistik.
Dua penghargaan ini seperti dua pilar yang menopang masa depan BRICS Literature Award. Salwa membuka lembaran pertama sebagai wajah pemenang utama. SementaraDenny JA menancapkan identitas BRICS sebagai ruang yang menghargai inovasi dan keberanian mencipta.
Dmitry Kuznetsov, Kepala Sekretariat Penghargaan, menyatakan bahwa BRICS Award hadir sebagai alternatif atas Nobel Sastra yang dinilai semakin politis.
BRICS ingin mengembalikan sastra pada nilai-nilai yang dihidupi Global South, yaitu kebijaksanaan tradisi, keadilan, humanisme, dan solidaritas antarbangsa.
Dalam kerangka itu Salwa Bakr mewakili suara perempuan dan kaum tertindas. Sementara Denny JA mewakili inovasi, keberanian bentuk baru, dan perspektif Asia Tenggara. Keduanya melengkapi misi BRICS membangun ruang budaya dunia yang lebih inklusif, lebih manusiawi, dan lebih mencerminkan mayoritas penduduk bumi.
Dari Kairo hingga Jakarta, dua nama ini kini berdiri berdampingan di panggung dunia. Bukan sebagai saingan, tetapi sebagai simbol dari dua kekuatan sastra:
kualitas karya dan terobosan bentuk.
BRICS Literature Award 2025 bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang apa yang ingin dibangun oleh dunia, dunia yang lebih seimbang, lebih beragam, dan berani membuka ruang bagi suara dari Selatan.
Di tengah perubahan geopolitik global, dua penghargaan ini menjadi pesan sunyi namun kuat: Bahwa sastra masih memiliki kekuatan untuk menyatukan manusia, melampaui bahasa, agama, dan bendera. Dan bahwa dari Mesir dan Indonesia, dua lentera telah menyala, menerangi perjalanan sastra dunia ke masa depan.
Pengakuan genre baru yang diterima Denny JA di tingkat global sangat jarang sekali terjadi. Dalam sejarah modern, hanya segelintir kasus:
•Magical realism (García Márquez)