Ramdan menegaskan bahwa setiap peserta BI-Fast, yaitu bank-bank yang tergabung dalam sistem ini, wajib memperhatikan pengamanan di sisi internal masing-masing, termasuk dalam penggunaan penyelenggara penunjang teknologi.
Menurut prinsip keamanan teknologi informasi, ketahanan suatu sistem ditentukan oleh titik terlemahnya. Artinya, jika salah satu komponen dalam ekosistem perbankan masih memiliki celah keamanan, maka potensi penyalahgunaan bisa saja terjadi.
“Sesuai prinsip keamanan TI, ketahanan suatu sistem dilihat dari titik terlemah dari komponen yang membentuk sistem tersebut,” jelas Ramdan.
Karena itu, penguatan sistem tidak hanya dilakukan di pusat, tetapi juga harus menyeluruh hingga ke internal masing-masing bank.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, BI justru menegaskan bahwa layanan BI-Fast tetap aman digunakan. Ramdan menyebutkan bahwa dengan pemenuhan standar internasional, masyarakat tidak perlu ragu untuk terus memanfaatkan BI-Fast sebagai instrumen pembayaran digital yang:
-
Cepat
-
Mudah
-
Murah
-
Aman
-
Andal
BI tetap mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan digital demi mendukung efisiensi transaksi di era ekonomi digital.
Jaga PIN dan OTP!
Selain memperkuat sistem di sisi industri, BI juga mengingatkan bahwa keamanan transaksi sangat bergantung pada kewaspadaan pengguna. Ramdan mengimbau masyarakat agar selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap transaksi perbankan digital.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan nasabah antara lain:
-
Selalu memeriksa kembali detail data transaksi sebelum konfirmasi
-
Menjaga kerahasiaan PIN, password, dan OTP
-
Tidak membagikan kode verifikasi kepada siapa pun
-
Mengaktifkan fitur notifikasi transaksi untuk memantau aktivitas rekening
“Masyarakat juga kami imbau untuk selalu memeriksa kembali data transaksi, menjaga kerahasiaan PIN dan OTP, serta memanfaatkan fitur notifikasi untuk memantau aktivitas rekening,” tandas Ramdan.
Kasus dugaan peretasan dana Rp 200 miliar ini menjadi alarm penting bagi seluruh industri keuangan. Di tengah masifnya adopsi layanan digital, ancaman kejahatan siber juga semakin canggih dan kompleks.