Sebelumnya, Zelensky secara tegas menolak menyerahkan wilayah Ukraina kepada Rusia. Sementara itu, Kremlin tetap menuntut pengakuan atas empat wilayah yang direbut pasukan Rusia, serta Semenanjung Krimea yang dianeksasi sejak 2014.
Dalam proposal terbaru tersebut, Ukraina akan mendapatkan dukungan Barat untuk mempertahankan kekuatan militer hingga 800.000 personel aktif.
Amerika Serikat akan memimpin mekanisme pemantauan dan verifikasi gencatan senjata, yang bertujuan memberikan peringatan dini jika terjadi pelanggaran di masa depan.
Negara-negara Eropa juga berencana menandatangani komitmen hukum yang mengikat untuk bertindak jika Ukraina kembali diserang. Skema ini disebut oleh pejabat AS sebagai jaminan keamanan “setara Pasal 5 NATO”, meskipun Ukraina belum menjadi anggota aliansi tersebut.
Tak hanya itu, Eropa juga menyatakan dukungan penuh terhadap aksesi Ukraina ke Uni Eropa, sebagai bagian dari integrasi politik dan ekonomi jangka panjang.
Proposal ini juga menandai pelunakan sikap Rusia, terutama terkait penolakan kehadiran pasukan asing di Ukraina dan pembatasan jumlah tentara Ukraina.
Delegasi AS yang dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner menyebut respons Rusia cenderung lebih terbuka dibanding sebelumnya.
Meski demikian, dunia internasional masih menanti apakah semua pihak benar-benar siap berkompromi demi mengakhiri konflik bersenjata terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
Jika kesepakatan tercapai, langkah ini berpotensi mengubah peta geopolitik global, sekaligus menentukan masa depan Ukraina, Rusia, dan stabilitas kawasan Eropa dalam beberapa dekade ke depan.