fin.co.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, yakni sekitar 6,7 persen, agar mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, khususnya dari kalangan generasi muda yang setiap tahun terus bertambah.
Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di kisaran 5,4 persen masih belum cukup untuk menampung lonjakan angkatan kerja baru yang memasuki usia produktif. Jika kondisi ini terus berlanjut, risiko pengangguran, terutama di kelompok usia muda, akan semakin besar.
“Kalau pertumbuhan 5,4 persen, masih banyak anak muda yang masuk usia kerja tapi belum terserap. Kalau 6,7 persen, mencari kerja jauh lebih gampang,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara KompasTV Bisnis Economic Outlook 2026 bertema “Nyalakan Mesin Pertumbuhan Baru”
Purbaya menjelaskan bahwa setiap tahun Indonesia menghadapi gelombang besar tenaga kerja baru, mulai dari lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi, hingga pencari kerja muda yang baru memasuki usia produktif.
Tanpa pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif, penciptaan lapangan kerja tidak akan mampu mengejar pertumbuhan angkatan kerja. Akibatnya, banyak lulusan baru berpotensi menganggur atau terjebak di sektor informal dengan pendapatan minim.
Fenomena ini menjadi tantangan serius, mengingat Indonesia tengah berada dalam periode bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Lebih jauh, Purbaya menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi 6,7 persen bukan semata-mata soal mengejar angka statistik.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi memiliki dampak langsung terhadap:
-
Pembukaan lapangan kerja baru
-
Peningkatan pendapatan masyarakat
-
Penguatan daya beli
-
Peningkatan kesejahteraan sosial
“Pertumbuhan yang kuat itu ujungnya ke lapangan kerja. Kalau ekonomi bergerak, industri hidup, UMKM tumbuh, otomatis tenaga kerja terserap,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa persoalan pengangguran usia muda tidak bisa diselesaikan hanya dengan pelatihan atau pendidikan semata, tetapi harus diimbangi dengan ekonomi yang benar-benar tumbuh dan produktif.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi, pemerintah, kata Purbaya, akan mengoptimalkan kebijakan fiskal yang bersifat countercyclical.