Berdasarkan keterangan saksi mata, penyebab kebakaran diduga kuat berasal dari baterai drone yang tersimpan di lantai tersebut. Karyawan PT Terra Drone Indonesia sebenarnya sempat berupaya memadamkan api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Namun, api yang berasal dari komponen kimia baterai tersebut justru mengamuk dengan cepat dan menyebar ke seluruh struktur bangunan tujuh lantai itu.
Penyidik kini membidik dugaan kelalaian yang dilakukan oleh Direktur Utama PT Terra Drone Indonesia, Michael Wisnu Wardhana (MWW). Ia diduga lalai dalam mengatur penempatan baterai drone serta tidak memperhatikan tata kelayakan kantor yang aman bagi para pekerjanya.
Terjebak di Lantai Atas: Mengapa 22 Orang Gagal Selamat?
Angka 22 orang tewas menjadikan insiden ini sebagai salah satu kebakaran kantor paling mematikan tahun ini. Kombes Susatyo mengungkapkan bahwa sebagian besar korban terjebak di lantai atas. Saat api berkobar di lantai 1, asap pekat langsung membumbung tinggi menutupi akses keluar, sehingga para korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Polisi masih terus mendalami apakah penataan gedung yang dilakukan oleh pihak penyewa sudah memenuhi standar keselamatan kebakaran atau justru menghambat jalur evakuasi. Fokus penyelidikan saat ini masih tertuju pada manajemen internal PT Terra Drone Indonesia terkait prosedur penyimpanan barang berbahaya dan tata ruang kantor.
Kepastian Hukum dan Nasib Para Korban
Meski pemilik gedung sudah memberikan keterangan lengkap dan menjawab seluruh pertanyaan penyidik, kepolisian menegaskan bahwa proses pencarian unsur pidana masih terus berjalan. Polisi tidak ingin terburu-buru dalam menetapkan status hukum sebelum semua bukti dari laboratorium forensik dan keterangan saksi sinkron secara utuh.
Tragedi Terra Drone ini menjadi peringatan keras bagi para pengusaha penyewa gedung agar tidak mengabaikan aspek keselamatan kerja. Perawatan gedung bukan sekadar masalah estetika, melainkan nyawa taruhannya. Kini, publik menunggu langkah hukum selanjutnya dari kepolisian terhadap pihak penyewa yang memegang kendali penuh atas perawatan gedung maut tersebut. - Rafi Adhi/Disway -