fin.co.id - Suasana Posko Pengungsian SD 05 Pasak Palembayan, Agam, Sumatera Barat, mendadak berubah haru. Kamis, 18 Desember 2025, Presiden Prabowo Subianto datang langsung menemui warga yang mengungsi. Awalnya, agenda berjalan seperti biasa. Prabowo menyapa, menyalami satu per satu warga Agam, dan memastikan kondisi mereka. Namun, dalam hitungan detik, emosi pecah dan membuat banyak orang terdiam.
Di tengah kerumunan, seorang bapak paruh baya asal Palembayan tiba-tiba menangis di hadapan Prabowo. Tangis itu bukan tangis biasa. Isakannya terdengar jelas dan langsung menyedot perhatian warga lain di posko pengungsian. Momen tersebut pun menciptakan suasana yang begitu emosional, seolah semua beban yang terpendam akhirnya menemukan jalan keluar.
Prabowo yang berdiri tepat di hadapan warga itu tidak menghindar. Ia tetap berada di tempat, menatap langsung sang bapak, dan menerima uluran tangannya. Keduanya sempat bersalaman. Dalam genggaman singkat itu, terlihat jelas bahwa momen tersebut membawa makna besar bagi warga Palembayan tersebut.
Sambil mengusap air mata yang terus mengalir, bapak paruh baya itu menyampaikan curahan hatinya. Dengan suara bergetar, ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kalimat sederhana itu terasa menghantam siapa pun yang mendengarnya. Tak sedikit warga lain yang ikut terdiam, bahkan menundukkan kepala.
Di titik inilah suasana posko pengungsian berubah drastis. Bukan lagi sekadar tempat berlindung sementara, melainkan ruang di mana emosi, kehilangan, dan harapan bertemu. Prabowo memilih untuk mendengarkan. Ia tidak memotong pembicaraan, tidak pula menunjukkan gestur tergesa. Presiden berdiri di sana, memberi ruang bagi warga itu untuk menumpahkan perasaannya.
Gestur Prabowo pun berbicara banyak. Ia menepuk bahu sang bapak dengan lembut, sebuah isyarat sederhana namun sarat makna. Tanpa kata-kata panjang, sikap tersebut menunjukkan empati dan perhatian. Dalam situasi seperti ini, sentuhan kecil justru sering kali terasa jauh lebih kuat dibandingkan pidato panjang.
Momen haru ini cepat menyebar dari mulut ke mulut di area posko pengungsian. Warga lain menyaksikan langsung bagaimana Prabowo merespons curahan hati tersebut dengan sabar. Tidak ada jarak yang terasa kaku. Interaksi itu berlangsung dekat, personal, dan emosional.
Kunjungan Presiden ke Agam sendiri menjadi perhatian besar warga setempat. Kehadiran kepala negara di tengah pengungsian membawa rasa diperhatikan. Bagi sebagian warga, kehadiran langsung seperti ini memberi kekuatan moral yang sulit tergantikan. Apalagi ketika seorang warga berani menunjukkan kerentanan di hadapan Presiden, momen tersebut terasa semakin nyata dan manusiawi. (*)